Senin, 13 Mei 2019

PEMBENIHAN IKAN GURAME SECARA ALAMIAH

Cara Pemijahan Budidaya Ikan Gurame  (Osphronemus gouramy). Gurame adalah jenis ikan konsumsi bergizi tinggi yang termasuk jenis ikan air tawar dengan daya tahan tubuh yang tinggi. Gurame atau Osphronemus gouramy memiliki bentuk badan pipih lebar, bagian punggung berwarna merahsawo dan bagian perut berwarnakekuningkuningan/ keperak-perakan. Ikan gurame merupakan keluarga Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici.
Guramme dapat tumbuh baik dengan ketinggian 20-400 m dpl. Gurame mudah dibudidayakan tetapi did dataran tinggi sekitar 800 m dpl ikan gurame cenderung lambat pertumbuhannya.
Parameter Ikan Gurame
Suhu      Oksigen                pH          Jumlah Telur
25-30     >4           6-8          2000-10.000
Pemilihan Induk Gurame
Induk mencapai umur > 3 - 7 tahun. Berbeda dengan induk ikan tambakan, Jumlah telur induk ikan gurame tergantung dari berat indukan betina semakin besar indukan betina semakin banyak jumlah telur yang tersimpan, perut akan membulat dan relatif penjang dengan warna badan terang. Sisik-sisiknya usahakan tidak cacat/hilang dan masih dalam keadaan tersusun rapi.
Induk betina yang cukup umur dan matang kelamin ditandai dengan perutnya akan membesar ke belakang atau di dekat lubang dubur. Pada lubang anus akan nampak putih kemerah-merahan. Dan apabila kita coba untuk meraba perutnya akan teras lembek.
Ciri-Ciri indukan Gurame
1) Induk betina
Ikan betina mempunyai dasar sirip dada yang gelap atau berwarna kehitaman, warna dagu ikan betina keputih-putihan atau sedikit coklat, jika diletakkan di lantai maka ikan betina tidak menunjukan reaksi apa-apa.
2) Induk jantan
Ikan jantan mempunyai dasar sirip berwarna terang atau keputih-putihan, mempunyai dagu yang berwarna kuning, lebih tebal daripada betina dan menjulur. Induk jantan apabila diletakkan pada lantai atau tanah akan menunjukan reaksinya dengan cara mengangkat pangkal sirip ekornya ke atas.
Klasifikasi ikan gurame adalah sebagai berikut:
Klas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Sub Ordo : Anabantoidae
Famili : Anabantidae
Genus : Osphronemus
Species : Osphronemus goramy (Lacepede)
Syarat Lokasi Budidaya Ikan Gurame
Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos dan cukup mengandung humus. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
Ikan gurame dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian 50-400 m dpl.
Kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurame harus bersih dan dasar kolam tidak berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
Kolam dengan kedalaman 70-100 cm dan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan gurame. Untuk pemeliharaan secara tradisional pada kolam khusus, debit air yang diperkenankan adalah 3 liter/detik, sedangkan untuk pemeliharaan secara polikultur, debit air yang ideal adalah antara 6-12 liter/detik.
Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 6,5-8.
Suhu air yang baik berkisar antara 25-28 derajat C.
Penyiapan Sarana dan Peralatan Ikan Gurame
Jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan gurame antara lain:
a) Kolam penyimpanan induk
Kolam ini berfungsi untuk menyimpan induk dalam mempersiapkan kematangan telur dan memelihara kesehatan induk, kolam berupa kolam tanah yang luasnya sekitar 10 meter persegi, kedalamam minimal 50 cm dan kepadatan kolam induk 20 ekor betina dan 10 ekor jantan.
b) Kolam pemijahan
Kolam berupa kolam tanah yang luasnya 200/300 meter persegi dan kepadatan kolam induk 1 ekor memerlukan 2-10 meter persegi (tergantung dari sistim pemijahan). Adapun syarat kolam pemijahan
adalah suhu air berkisar antara 24-28 derajat C; kedalaman air 75-100 cm; dasar kolam sebaiknya berpasir. Tempatkan sarana penempel telur berupa injuk atau ranting-ranting.
c) Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan
Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
d) Kolam pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam jaring 1,25–1,5 cm. Jumlah penebaran bibit sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.
e) Kolam/tempat pemberokan
Merupakan tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan
Adapun cara pembuatan kolam adalah sebagai berikut:
Ukurlah tanah 10 x 10 m (100 m2).
Buatlah pematangnya dengan ukuran; bagian atas lebarnya 0,5 m, bagian bawahnya 1 m dan tingginya 1 m.
Pasanglah pipa/bambu besar untuk pemasukan dan pengeluaran air. Aturlah tinggi rendahnya, agar mudah memasukkan dan mengeluarkan air.
Cangkullah tanah dasar kolam induk agar gembur, lalu diratakan lagi. Tanah akan jadi lembut setelah diairi, sehingga lobang-lobang tanah akan tertutup, dan air tidak keluar akibat bocor dari pori-pori itu. Dasar kolam dibuat miring ke arah pintu keluar air.
Buatlah saluran ditengah-tengah kolam induk, memanjang dari pintu masuk air ke pintu keluar. Lebar saluran itu 0,5 m dan dalamnya 15 cm.
Keringkanlah kolam induk dengan 2 karung pupuk kandang yang disebarkan merata, kemudian air dimasukkan. Biarkan selama 1 minggu, agar pupuk hancur dan meresap ke tanah dan membentuk lumut, serta menguji agar kolam tidask bocor. Tinggi air 0,75-1 m.
Peralatan Ikan Gurame
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan gurame diantaranya adalah:
jala,
waring (anco),
hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih),
seser,
ember-ember,
baskom berbagai ukuran,
timbangan skala kecil (gram) dan besar (Kg),
cangkul,
arit,
pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan.
Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan gurame antara lain adalah
warring/scoopnet yang halus,
ayakan panglembangan diameter 100 cm,
ayakan penandean diameter 5 cm,
tempat menyimpan ikan, keramba kemplung,
keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat),
kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat),
hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih,
 ayakan penyabetan dari alumunium/bambu,
oblok/delok (untuk pengangkut benih),
sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas),
anco/hanco (untuk menangkap ikan),
lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi),
scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),
seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar),
jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
Pemeliharaan Induk Ikan Gurame
Induk-induk terpilih (20-30 ekor untuk kolam seluas 10 m2) disimpan dalam kolam penyimpanan induk. Beri makanan selama dalam penampungan. Untuk setiap induk dengan berat antara 2-3 kg diberi makanan daun-daunan sebanyak 1/3 kg setiap hari pada sore hari. Makanan tambahan berupa dedak halus yang diseduh air panas diberikan 2 kali seminggu dengan takaran 1/2 blekminyak tanah setiap kali pemberian.
Pembenihan Ikan Gurame
Induk yang sudah matang gonad siap untuk ditebarkan di kolam pemijahan.
Kolam pemijahan merupakan kolam khusus yang ukurannya tergantung jumlah induk yang dimiliki, ukuran minimumya 20 m2 dan maksimum dapat mencapai 1000 m2 dengan kedalaman ideal 0,8 m - 1,5 m.
Kolam induk sebaiknya dekat dengan kolam pemijahan sehingga memudahkan proses pemindahan induk ikan.
Padat tebar induk ikan gurami diusahakan 1 ekor induk ikan yang bobotnya 3-5 kg per ekor sebaiknya memiliki areal untuk bergerak bebas seluas 5 m2.
Penebaran induk dilakukan dengan perbandingan 1 ekor jantan yang bobotnya mencapai 3-5 kg dan 3 ekor betina yang bobotnya minimal 3 kg.
Proses pemijahan biasanya akan berlangsung yang diawali 1 minggu pertama induk jantan telah memulai membuat sarang, lamanya membuat sarang lebih kurang 6 hari kemudian induk betina yang sudah siap pijah memiliki naluri akan segera berpijah setelah sarangya siap, terjadinya proses pemijahan selama 2-3 hari, induk betina segera mengeluarkan telur-telurnya dan secara bersamaan pula induk jantan menyemprotkan sperma dan terjadi proses pembuahan telur oleh sperma jantan.
Proses perkawinan akan diakhiri apabila jantan telah menutup sarang, dengan ijuk atau sejenisnya. Keberhasilan proses pemijahan dapat diamati pula dengan melihat pemukaan kolam yang ada sarang guraminya terlihat keluar banyak minyak dipermukaan air dan tecium bau amis.
Penetasan Telur Ikan Gurame
Pengambilan sarang yang berisi telur dilakukan secara berhati-hati dengan cara memegang sisi luar bagian paling bawah sarang dan sebaiknya sarang tidak diangkat begitu saja, tetapi menggunakan wadah berupa ember atau baskom yang berisi air dan diberi Metheline Blue dengan perbandingan 5 cc obat untuk 5 liter air.
Penetasan dapat dilakukan di dalam paso atau baskom maupun di dalam akuarium. Air di dalam baskom atau akuarium diberi aerasi atau supplay oksigen dan setiap hari dilakukan pengambilan telur-telur yang tidak menetas atau berjamur supaya tidak menular ke telur yang sehat. Biasanya telur gurami akan menetas setelah 36-41 jam.
Pemeliharaan Larva Ikan Gurame
Setelah telur menetas, larva dapat dipelihara dalam paso atau baskom selama 8-10 hari sampai kuning telur habis.
Bila penetasan dilakukan di dalam akuarium, pemindahan larva tidak perlu dilakukan. Selama pemeliharaan di akuarium, penggantian air perlu dilakukan untuk membersihkan air dari minyak yang dihasilkan saat penetasan. Suhu dipertahankan pada kisaran 29-30 derajat celcius.
Pemindahan larva dari lokasi penetasan ke lokasi pembesaran / pendederan dapat dilakukan dengan menggunakan baskom atau ember.
Larva dimasukkan ke dalam ember bersama air dari tempat penetasan sehingga larva tidak stres. Sebaiknya pemindahan ke kolam atau tempat pendederan dilakukan pada pagi atau sore hari dimana pebedaan suhu antara air media penetasan dan air media pendederan atau kolam tidak begitu mencolok.
Pemberian Pakan Ikan Gurame
Pakan mulai diberikan setelah larva berumur 8-10 hari atau setelah kuning telur habis. Pakan yang diberikan adalah pakan alami yang bisa berupa artemia, kutu air berupa daphina atau moina, cacing sutera.
Jenis pakan yang diberikan ini disesuaikan dengan bukaan mulut larva. Frekuensi pemberian sebanyak 4-5 kali sehari.
Untuk larva yang dipelihara di akuarium, pemberian pakan dapat diberikan sebanyak 2 sendok makan untuk 1000 ekor larva setiap pemberian. Ketika sudah semakin besar, kepadatan larva dalam satu akuarium dapat dikurangi.
Larva yang dipelihara dalam akuarium selanjutnya dipelihara hingga menjadi benih yang siap ditebarkan ke kolam pemeliharaan benih.
Permasalahan Pembenihan Ikan Gurame
Berikut ini beberapa permasalahan yang sering ditemui dalam usaha pembenihan ikan gurami :
1. Induk Malas Memijah
Induk gurami yang telah matang gonad kadang-kadang tidak mau memijah. Hal ini sebagian besar diakibatkan karena kondisi lingkungan kolan yang tidak nyaman bagi indukan atau indukan belum benar-benar matang gonad. Cara mengatasinya adalah dengan memijahkan induk yang benar-benar telah matang gonad dan kolam pemijahan jangan terlalu padat, cukup 40 ekor/1000 m2 atau bisa juga dengan perbandingan 3 betina : 1 jantan untuk kolam dengan ukuran 4m x 3m.
2. Jumlah Telur Sedikit
Hal ini bisa disebabkan oleh umur induk yang terlalu muda. Untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan induk jantan yang  telah berumur 4 tahun dan induk betina yang berumur 3 tahun.
3. Telur Tidak Menetas
Telur yang tidak menetas bisa disebabkan oleh kualitas induk yang kurang bagus dan penanganan sarang yang salah sehingga telur mati. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan induk yang kualitasnya benar-benar memenuhi syarat sehingga telur yang dihasilkan bagus mutunya dan tidak mengangkat baskom atau ember begitu saja akan tetapi sarang diangkat bersama dengan air kolam pemijahan agar telur tidak terkontaminasi dengan udara luar.
4. Tubuh Benih Berwarna Hitam

Kondisi ini disebabkan oleh gangguan velvet yang menyebabkan kulit benih menjadi berwarna gelap dan berlendir. Pemicunya adalah karena suhu air penetasan terlalu rendah. Hal ini dapat diatasi dengan pemasangan pemanas atau heater untuk menjaga suhu air media penetasan tetap pada kisaran yang sesuai.
Sumber:
http://www.alamikan.com/2014/05/cara-pembenihan-budidaya-ikan-gurame.html
http://budidayanews.blogspot.co.id/2011/02/cara-pemijahan-ikan-gurame.html

Bubuk Kalsium dari Tulang Ikan

DESKRIPSI TEKNOLOGI
Tujuan penerapan teknologi ini adalah untuk meningkatkan nilai tambah dari limbah hasil perikanan khususnya tulang ikan yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal.
Manfaat dari penerapan teknologi ini adalah untuk memanfaatkan tulang ikan yang masih sering dianggap sebagai limbah, dengan demikian dapat mengurangi dampak lingkungan dari limbah hasil perikanan. Hal ini sangat mendukung konsep zero waste dan blue economy, selain juga dapat menjadi peluang kerja baru bagi masyarakat kelautan dan perikanan Indonesia.
Bubuk kalsium tulang ikan dapat ditambahkan pada produk kering seperti kerupuk, mi, tik-tik ikan, biskuit dan berbagai produk kering lainnya. Di samping itu dapat digunakan juga pada produk basah seperti nuget, kaki naga, burger, bakso, brownis dan lainnya. Bubuk kalsium tulang ikan dapat juga dapat digunakan sebagai sumber kalsium pada pakan ternak dan pakan ikan.
Pembuatan tepung tulang ikan sudah dilakukan secara tradisional dengan menggiling tulang ikan yang sudah dikeringkan, tanpa melalui proses ekstraksi. Inovasi dari teknologi ini adalah dilakukannya proses ekstraksi menggunakan NaOH an HCl sehingga dapat diperoleh bubuk kalsium tulang ikan yang lebih murni dengan ukuran yang lebih halus, bahkan dapat mencapai ukuran nano, sehingga mudah diserap oleh tubuh bila dikonsumsi.
PENGERTIAN
Kalsium: Logam putih, menyerupai kristal; unsur dengan nomor atom 20, berlambang Ca, dan bobot atom 40,08
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS
Persyaratan Teknis
Pembuatan bubuk kalsium dari tulang ikan memerlukan peralatan sebagai berikut :
1. Panci perebus
2. Kompor
3. Waterbath (dapat dimodifikasi dari drum bekas, minimal mampu digunakan untuk merendam pada suhu 100 C) o
4. Kertas saring Whatman ukuran 41 atau 42 dan kertas pH yang dapat diperoleh di toko bahankimia
5. Grinder, dishmill atau hammer mill untuk menggiling tulang menjadi partikel ukuran kecil/bubuk
6. Oven/alat pengering mekanis yang minimal mampu mencapai suhu 50 Co
7. Saringan bertingkat dengan ukuran 100 mesh, 200 mesh, dan 500 mesh
Di samping itu diperlukan bahan-bahan sebagai berikut: 1. Tulang ikan (dapat berasal dari semua jenis ikan, merupakan limbah dari pengolahan fillet ataupengolahan ikan lain) 2. NaOH (teknis) 3. HCl (teknis)
Rincian teknologi
1. Pembersihan tulang ikan dari kotoran atau sisa daging yang melekat dilakukan dengan pencucian dan penyiangan. Tulang pada bagian kepala dan ekor ikan dibuang.
2. Tulang ikan kemudian direbus dalam wadah perebusan atau panci aluminium selama 30 menit pada suhu sekitar 1.000oC. Proses pemasakan atau perebusan dilakukan untuk mempermudah pembersihan tulang dari daging, lemak dan darah yang menempel ada tulang. Untuk mendapatkan tulang ikan yang bersih dan hasil akhir dengan nilai derajat putih yang tinggi, perebusan dapat dilakukan berulang-ulang.
3. Tulang ikan yang telah direbus ditiriskan di para-para atau tampah kemudian didinginkan. Untuk mempercepat proses pendinginan dapat digunakan kipas angin atau diangin-anginkan di udara luar.
4. Sisa daging yang masih menempel dibersihkan menggunakan sikat dan dicuci kembali hingga bersih.
5. Setelah bersih, tulang dikeringkan di bawah sinar matahari hingga kering (sekitar 1 hari) menggunakan para-para atau tampah sebagai wadah tulang ikan.
6. Tulang ikan yang sudah kering kemudian dihaluskan dengan menggunakan alat penepung, dishmill atau hammer mill.
7. Tahapan selanjutnya adalah proses ekstraksi tepung tulang ikan yang dilakukan pada suhu 100oC dalam waterbath menggunakan larutan NaOH (konsentrasi 4%) selama 1 jam dengan perbandingan antara tepung dan larutan NaOH 1 : 2.
8. Untuk memisahkan filtrat dan residunya, dilakukan 2 kali penyaringan. Penyaringan pertama dilakukan menggunakan kain blacu dan penyaringan kedua dilakukan dengan menggunakan kertas saring whatman. Tujuan dari penyaringan 2 tahap ini adalah untuk mendapatkan residu yang lebih banyak sekaligus meminimalkan biaya. Jika menggunakan kertas saring whatman saja untuk penyaringan makan biaya yang dikeluarkan akan lebih banyak dibanding penyaringan dilakukan dengan menggunakan kain blacu, tetapi bila hanya menggunakan kain blacu saja, hasilnya tidak sebagus jika penyaringan dilakukan dengan menggunakan kertas saring whatman karena pori-pori kain blacu lebih besar dari pori-pori kertas saring whatman.
9. Pencucian ulang kemudian dilakukan dengan akuades agar residu mempunyai pH yang mendekati netral (pH 7). Pengecekan pH dapat menggunakan kertas pH.
10. Residu yang sudah netral kemudian dihidrolisis dengan cara merendamnya dalam HCl 3,6%dengan perbandingan 1 : 3 selama 24 jam, selanjutnya residu berikut HCl tersebut dimasukkan ke dalam waterbath untuk dipanaskan pada suhu 100oC selama 1 jam.
11. Setelah diekstraksi, dilakukan penyaringan dengan cara yang sama dengan penyaringansebelum pencucian pada proses ekstraksi pertama.
12. Pencucian ulang hingga pH netral dilakukan menggunakan akudes seperti pada penetralansebelumnya.
13. Pengeringan residu dilakukan menggunakan oven pada suhu 50 C selama 24 jam atauo hingga kadar air residu maksimal 3%.
14. Residu yang telah kering digiling kembali untuk menyeragamkan ukuran. Penggilingan dilakukan dengan menggunakan alat penepung/hammer mill/dishmill.
15. Tepung yang dihasilkan kemudian disaring menggunakan saringan bertingkat 100 mesh, 200 mesh dan 500 mesh. Penyaringan bertingkat ini dimaksudkan untuk mendapatkan bubuk kalsium dengan ukuran yang berbeda-beda. Pembedaan kelompok ini berguna untuk menentukan segmen pasar karena setiap segmen mempunyai harga yang berbeda. Kalsium dengan ukuran yang lebih kecil dapat dijual untuk segmen pasar yang dengan nilai jual lebih tinggi dibandingkan kalsium dengan ukuran lebih besar.
16. Pengemasan dilakukan untuk mencegah kalsium ditumbuhi jamur akibat kelembaban (RH) yang tinggi di udara sekitar. Pengemasan dapat menggunakan plastik atau botol. Ukuran kemasan dan bobot kalsium pada kemasan ditentukan oleh pengusaha berdasarkan segmen dan permintaan pasar. Pasar potensial adalah industri makanan kecil dan pakan ternak/ikan.
17. Kalsium dapat digunakan pada makanan kecil/snack kering dengan takaran tidak lebih dari 2% dari total adonan. Penambahan kalsium dari tulang ikan ini dapat dilakukan pada proses pencapuran bahan makanan (pengadonan).
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
Selain meningkatkan nilai tambah, teknologi ini dapat mengurangi masalah pencemaran lingkungan oleh limbah perikanan.
Bubuk kalsium tulang ikan mengandung kalsium yang lebih murni dan ukuran bubuk yang lebih kecil dibandingkan tepung ikan yang dibuat secara tradisional, karena menggunakan proses ekstraksi dengan NaOH dan HCl. Dengan demikian diharapkan kalsium akan dapat diserap dengan lebih baik oleh tubuh.
Mudah disubtitusikan pada produk makanan olahan karena berbentuk tepung dan tidak berbau amis.
Mempunyai pangsa pasar pada industri pakan sebagai sumber mineral dalam formulasi pakan.
WAKTU DAN LOKASI REKOMENDASI
Penelitian dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBP4BKP) Jakarta pada tahun 2010 – 2012, diteruskan dengan kaji terap penggunaan bubuk kalsium tulang ikan pada berbagai jenis makanan misalnya tik-tik, kerupuk, kue, roti, brownis dan lain-lain makanan camilan. Kaji terap dilakukan di Tulungagung, Kupang (Nusa tenggara Timur), Tegal, Samarinda, Pemangkat dan Kayong Utara (Kalimantan Barat). Teknologi ini direkomendasikan untuk daerah yang banyak terdapat unit pengolah ikan baik skala UKM maupun industri yang pada proses produksinya menghasilkan hasil samping tulang ikan.
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF Teknologi ini tidak akan berdampak negatif pada lingkungan bila dilengkapi dengan instalasi pengolahan limbah (IPAL), karena menggunakan bahan kimia pada prosesnya.
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI Komponen yang digunakan dalam teknologi ini seluruhnya menggunakan material produksi dalam negeri. No Uraian Satuan Jumlah Harga satuan Jumlah Jumlah/ bulan 1 Tulang ikan (hari sekali)ekstraksi setiap 3 Kg 50 1.000 50.000 500.000 2 NaOH (teknis) Kg 5 15.000 75.000 750.000 3 HCl (teknis) liter 2 15.000 30.000 300.000 4 Gas tabung 0,3 15.000 4.500 45.000 5 Pengemas Kg 10 15.000 150.000 1.500.000 JUMLAH Biaya tetap 309.500 3.095.000 1 Tenaga Kerja Orang 4 25.000 100.000 2.500.000 2 Listrik Paket 1 150.000 150.000 150.000 3 Air Paket 1 100.000 100.000 100.000 JUMLAH 350.000 2.750.000 Modal Usaha = Biaya Investasi + Biaya Opresional + Biaya Tetap Biaya Investasi 96.530.000 Biaya Operasional 3.095.000 Biaya Tetap 2.750.000 102.375.000 0 Tabel 1. Rincian Biaya operasional Ekstraksi tulang ikan
KELAYAKAN FINANSIAL DAN ANALISIS USAHA Diasumsikan bahwa modal usaha Rp 50.000.000 merupakan pinjaman Bank yang diberikan melalui KUMK dengan Bunga 12% per tahun, maka pinjaman yang diajukan ke bank maka perhitungannya dapat dilihat pada tabel di halaman berikut: (RP) Modal 97.039.500 Pinjaman Bunga Bank12 % Pertahun 50.000.000 Pinjaman 50.000.000 Bunga 12%/tahun 6.000.000 Bunga perbulan 500.000 Pengeluaran Penyusutan Biaya operasional 583.83 3.095.000 Biaya tetap 2.750.000 Bunga Bank Proyeksi Laba Rugi Usaha Pendapatan 500.000 6.928.833 Rendemen (KG) Penjualan tepung tulang 40 Total Pendapatan/bulan Pengeluaran Biaya Produksi Penyusutan Biaya Tetap Bunga Bank Perbulan Total Pengeluaran Laba Setelah Pajak Pertimbangan Usaha Pertimbangan usaha dihitung berdasarkan BEP = Biaya tetap/1-Biaya tidak tetap/hasil penjualan Biaya tetap Variable Cost Hasil Penjualan Biaya operasional/Hasil Penjualan Penyebut 2. 750.000 3.095.000 10.000.000 0, 309 0,691 3. 982.621,29 BEP satuan kg harga per kg (RP) 25.000 Jumlah (RP) 1.000.000 jumlah/bulan (RP) 10.000.000 10.000.000 3.095.000 583.833 2.750.000 500.000 6.928.833 3.071.167
Spesifikasi
Bubuk kalsium tulang ikan mempunyai kadar kalsium 22,6%, rasio kalsium dengan fosfor sebesar 1,87. Mempunyai kadar air 2,33%, kadar abu 92,74%, kadar protein 0,61%, ukuran 145 nm - 2 µm dan derajat putih 93,72%.
Sumber:
Murniyati, Dewi F.R., Nurhayati, Tazwir, dan Peranginangin R., 2013. Bubuk Kalsium dari Tulang Ikan. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Pengawetan Ikan Menggunakan Biji Picung Beku

DESKRIPSI TEKNOLOGI
Biji picung (Pangium edule Reinw.) telah lama digunakan sebagai pengawet ikan oleh nelayan di daerah Banten, Jawa Barat, Sulawesi Utara, serta daerah lain yang sulit mendapatkan pasokan es. Dalam pemanfaatannya, nelayan biasa mencampurkan picung yang telah dicacah yang dicampur dengan garam, kemudian melumurkannya ke seluruh permukaan dan bagian rongga perut ikan. Dalam praktek, penggunaan picung ini dapat mengawetkan ikan selama beberapa hari.
Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa penggunaan 3 – 4 % picung yang dicampur dengan 2 – 3 % garam, dapat mempertahankan kesegaran ikan hingga 4 hari pada suhu ruang. Selain itu, secara in vitro ekstrak picung terbukti mampu mengambat pertumbuhan baik bakteri Gram positif maupun Gram negatif seperti Staphylococcus aureus, Pseudomonas fluorescens, Salmonella thypimurium, Enterobacter aerogenes dan Micrococcus lactis.
Hasil penelitian di laboratorium dan penggunaan secara tradisional di lapangan menunjukkan bahwa potensi pemanfaatan biji picung untuk menghambat proses ikan sangat terbuka luas. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa kendala teknis dalam penggunaannya di lapangan. Di antaranya adalah waktu panen picung yang hanya sekali dalam setahun sehingga ketersediaannya terbatas pada musim tertentu; proses penyiapannya kurang praktis karena biji picung harus dipisahkan dulu dari cangkangnya lalu dicacah setiap akan digunakan. Selain itu, biji yang telah dipisahkan dari cangkangnya mudah berubah warna menjadi kecoklatan. Pencoklatan yang diakibatkan oleh aktivitas enzim fenol oksidasi di dalam biji picung ini menyebabkan penurunan daya pengawetan biji picung terhadap ikan segar, selain tentu saja akan mempengaruhi warna ikan yang diawetkan.
Oleh karena itu, diperlukan suatu teknologi yang dapat menjamin ketersediaan biji picung sepanjang tahun dalam bentuk yang praktis, mudah digunakan sekaligus memiliki daya pengawetan ikan yang tinggi. Pengawetan biji picung dengan cara pengeringan telah dicoba dilakukan, namun hasilnya tidak memuaskan karena biji picung menjadi coklat dan daya pengawetan terhadap ikan pun sangat berkurang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembekuan biji picung dapat menghambat kerja enzim yang berperan dalam proses oksidasi biji picung yang menyebabkan biji picung berwarna coklat. Kemampuan biji picung untuk mengawetkan ikan masih dapat dipertahankan meskipun disimpan dalam kondisi beku. Penggunaan biji picung beku pada ikan nila dapat memperpanjang daya simpan ikan hingga 3-4 kali lebih lama jika dibandingkan dengan ikan nila tanpa pengawetan. Ikan yang disimpan pada suhu ruang tanpa pengawetan hanya bisa bertahan selama 8-12 jam saja. Selain itu biji picung beku mempunyai daya anti bakteri khususnya E. coli dan S. aureus.
PENGERTIAN
Picung (Pangium edule Reinw) adalah tumbuhan yang tergolong Spermatophyta. Biji buah picung dalam bentuk terfermentasi dikenal sebagai keluwak adalah tanaman liar yang banyak ditemui di hutan pada ketinggian hingga 1.000m. Biji picung banyak mengandung asam sianida dan tanin, yang diyakini berfungsi sebagai bahan pengawet. Asam sianida bersifat antimikroba, tetapi dalam jumlah banyak dapat menyebabkan keracunan pada manusia. Meskipun demikian, penggunaan biji picung sebagai pengawet ikan tidak membahayakan kesehatan dan keselamatan konsumen karena asam sianida diketahui mudah menguap dalam suhu ruang.
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS
Persyaratan Teknis
Selama proses pengupasan dan pencincangan biji picung harus diusahakan agar proses pencoklatan dihindarkan dengan selalu menggunakan suhu rendah, mengurangi cahaya, dan bekerja cepat. Selama disimpan, biji picung beku diusahakan tetap dalam keadaan beku. Kemudian pada tahap pelelehan dan aplikasi, biji picung beku sebaiknya tidak terpapar langsung dengan sinar matahari. Konsentrasi biji picung beku yang digunakan untuk pengawetan ikan harus tidak melebihi konsentrasi yang dianjurkan.
Rincian teknologi
Teknologi penyiapan biji picung beku:
1. Penyiapan biji picung cincang (sebaiknya dilakukan pada ruang tertutup bersuhu rendah) :
 Buah picung dikupas kulitnya dan diambil bijinya
 Biji picung dibersihkan lalu dibuka dengan memecahkan kulitnya
 Bagian dalam biji picung dicungkil, dikumpulkan dan dicincang
2. Pengemasan biji picung cacah
 Biji picung cincang dikemas dalam kantong plastik berukuran ± 1 kg
3. Pembekuan: biji picung dalam kemasan plastik dibekukan pada suhu -10o s/d - 18°C selama beberapa jam, selanjutnya disimpan dalam keadaan beku
4. Aplikasi pada ikan
 Biji picung beku dilelehkan pada suhu ruang sebelum digunakan
 Konsentrasi yang disarankan sebanyak 4% dari bobot ikan segar, penggunaannya dapat dikombinasikan dengan garam sebanyak 1-2% dari bobot ikan
 Biji picung dilumurkan ke seluruh permukaan ikan dan dimasukkan ke rongga perut ikan yang telah disiangi isi perutnya. Perlu diperhatikan bahwa sejak pemanenan, biji picung harus dilindungi dari cahaya matahari, udara (oksigen) dan suhu tinggi. Proses produksi biji picung beku ini sebaiknya dilakukan secara bertahap, tanpa menunggu bahan baku terkumpul dalam jumlah banyak. Karena biji picung yang tidak segera dibekukan akan menjadi coklat dan daya awetnya menurun. Pada saat pendistribusian, biji picung beku harus dijaga dalam kondisi beku dan tidak terpapar sinar matahari.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
 Biji picung beku sangat praktis karena tidak perlu memecahkan, mencungkil dan mencincang biji picung setiap akan mengawetkan ikan,
 Dalam keadaan beku dapat tersedia dengan daya pengawetan yang sama sepanjang tahun tanpa terkendala musim,
 Biji picung beku memang tidak lebih unggul dibandingkan pengawetan dengan suhu rendah/es yang hingga saat ini masih tidak tergantikan.
Akan tetapi teknologi ini memberikan solusi untuk daerah-daerah di mana refrigerasi/es tidak tersedia, seperti di daerah terpencil, yang masyarakatnya lebih banyak mengenal ikan asin daripada ikan segar.
 Teknologi ini dapat mencegah penyalah-gunaan bahan pengawet berbahaya seperti formalin untuk mengawetkan ikan.
 Mudah diterapkan dalam sistem usaha kelautan dan perikanan secara berkelanjutan seseuai dengan daerah pengembangan (ekologi, sosial budaya, ekonomi, teknis, infrastruktur, fiksal, hukum dan kelembagaan)
 Teknologi pengawetan biji picung dapat mendorong berkembangnya industri bahan pengawet alami yaitu biji picung beku, yang aman dan mudah digunakan di pusat-pusat penjualan ikan segar yang terpencil atau yang tidak terjangkau oleh pasokan es. Teknologi pembekuan ini dapat dintroduksikan kepada UKM atau koperasi nelayan yang berada di wilayah terpencil.
 Industri biji picung beku bahkan dapat mendorong pembudidayaan pohon picung, terutama di lahan kering atau lahan terlantar, sehingga produksi dapat ditingkatkan, karena saat ini ketersediaan biji picung masih terbatas karena masih mengandalkan tanaman yang ada di hutan/kebun dan tidak tersebar merata di seluruh Indonesia.
WAKTU DAN LOKASI REKOMENDASI
Aplikasi biji picung beku untuk pengawet ikan masih dilakukan pada skala laboratorium, karena belum ada investor yang tertarik untuk membuat biji picung beku.
Teknologi ini layak diterapkan di tempat pendaratan ikan yang terpencil dan susah mendapatkan pasokan es sebagai pengawet. Sasaran pengguna teknologi (pembuat biji picung beku dan pengguna biji picung beku dalam pengawetan ikan) adalah UKM atau koperasi nelayan terutama yang memiliki fasilitas mesin penyimpan dingin (beku.)
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Tanaman picung mengandung asam sianida yang cukup besar jumlahnya baik pada batang, daun dan buahnya. Namun demikian, asam sianida bersifat mudah menguap bahkan pada suhu kamar sehingga akan hilang pada saat ikan dimasak, sehingga tidak beresiko terhadap kesehatan dan keselamatan konsumen.
KELAYAKAN FINANSIAL
Biaya pengawetan ikan menggunakan es memerlukan biaya sekitar 1000-3000 rupiah/kg ikan (tergantung lama penyimpanan), bila es ditambahkan terus menerus dapat mengawetkan ikan hingga 10-12 hari. Pengawetan dengan biji picung beku memerlukan sekitar 500 rupiah/kg ikan dengan daya awet 2-3 hari. Tanpa pengawetan, ikan akan busuk dalam waktu 8 jam. Biaya pengangkutan biji picung beku ke pusat pendaratan ikan jauh lebih mudah, lebih praktis dan lebih murah dibandingkan dengan pengangkutan es, atau pengangkutan biji picung segar yang masih bercangkang.
T I N G K AT K O M P O N E N D A L A M NEGERI
Bahan baku yang diperlukan, yaitu buah picung (Pangium edule Reinw.) merupakan tanaman asli Indonesia, banyak tersebar di hutan daerah dataran tinggi di beberapa wilayah Indonesia.
Sumber:
Heruwati E. S., Rachmawati N., dan Hermana I., 2013. Pengawetan Ikan Menggunakan Biji Picung Beku. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Penggunaan Vaksin HydroVac dan StreptoVac untuk Pencegahan Penyakit Potensial pada Ikan Air Tawar

DESKRIPSI TEKNOLOGI
Manfaat Teknologi
 Aplikasi vaksin HydroVac merupakan upaya pemberian kekebalan spesifik (antibodi) secara dini pada ikan budidaya untuk mencegah infeksi bakteri Aeromonas hydrophila, bakteri patogen penyebab penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS).
 Aplikasi vaksin StreptoVac merupakan upaya pemberian kekebalan spesifik (antibodi) secara dini pada ikan budidaya (khusunya ikan nila) untuk mencegah infeksi bakteri Streptococcus agalactiae, bakteri patogen penyebab penyakit streptococciosis.
 Aplikasi vaksin HydroVac dan StreptoVac pada perikanan budidaya air tawar dapat menekan tingkat mortalitas yang diakibatkan oleh penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) pada semua jenis ikan air tawar, dan penyakit streptococcosis pada ikan nila.
 Program vaksinasi akan meningkatkan produksi (food security) dan menjamin mutu produk perikanan (food safety), serta menjamin keberlanjutan budidaya ikan (sustainable aquaculture) air tawar yang ramah lingkungan.
 Vaksinasi merupakan salah satu upaya pengendalian penyakit bakterial pada ikan yang ramah terhadap ikan, lingkungan perairan dan konsumen.
 Penggunaan vaksin dapat mencegah timbulnya resistensi bakteri patogen pada ikan dan lingkungan perairan akibat penggunaan bahan kimia/antibiotika yang kurang bijaksana dalam pengelolaan kesehatan ikan.
 Secara ekonomi, aplikasi vaksin HydroVac dan StreptoVac pada perikanan budidaya air tawar akan menambah biaya produksi 1 – 2 rupiah/ekor ikan; namun keuntungan yang diperoleh akan sangat nyata.
PENGERTIAN/DEFINISI
Vaksin : Vaksin adalah suatu produk biologi yang terbuat dari mikroorganisme, komponen mikroorganisme yang telah dilemahkan, dimatikan atau rekayasa genetika dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh secara aktif (antibodi) sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi suatu jenis mikroorganisme patogen.
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS
Persyaratan Teknis Penerapan Teknologi
Persyaratan yang perlu diperhatikan sebelum melakukan vaksinasi pada ikan:
 Ikan telah berumur lebih dari dua minggu.
 Kesehatan ikan harus dalam kondisi prima, hindari pemberian vaksin pada ikan yang sedang sakit.
 Suhu air relatif hangat (di atas 25oC) dan stabil.
SOP teknologi
HydroVac dan StreptoVac dapat diberikan melalui 3 (tiga) cara, yaitu perendaman, pakan dan suntik.
(1) Perendaman dalam larutan vaksin selama 15–30 menit. Teknik ini sangat ideal u n t u k ikan ukuran benih. Perendaman dapat dilakukan dalam bak beton/fiber glass/ akuarium atau ember plastik. Dosis yang digunakan adalah 100 ml vaksin untuk 1.000 liter air atau 1 ml vaksin untuk setiap 10 liter air. Air bekas rendaman pertama, masih dapat segera (tidak lebih dari 2 jam) digunakan sekali lagi untuk tujuan yang sama.
(2) Melalui pakan ikan (pellet). Teknik ini cocok untuk ikan yang sudah dipelihara di kolam/jaring atau sebagai vaksinasi ulang (booster). Vaksin diencerkan terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian dimasukkan ke dalam alat semprot. Semprotkan larutan vaksin tersebut ke pakan secara merata, dikeringanginkan dan selanjutnya segera diberikan kepada ikan. Dosis yang diberikan adalah 2 - 3 ml/kg bobot tubuh ikan. Pemberian vaksin dilakukan selama 5 – 7 hari berturut-turut.
(3) Melalui penyuntikan. Teknik ini terutama diaplikasikan untuk ikan yang berukuran lebih dari 5 gram/ekor atau calon induk. Dosis vaksin yang diberikan adalah 0,1 ml/ekor. Penyuntikan dapat dilakukan melalui rongga perut (intra peritoneal) atau dimasukkan ke otot/daging (intra muscular) dengan sudut kemiringan jarum suntik 30 derajat.
Kaji Terap yang Sudah Dilakukan
Laporan aplikasi vaksin Hydrovac tahun 2009 ke beberapa dinas dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), Kementrian Kelautan dan Perikanan; serta Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di bawah Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi dan Kabupaten/Kota diperoleh data-data sebagai berikut:
 Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, aplikasi vaksin Hydrovac memberikan hasil yang menggembirakan bagi para pembudidaya ikan lele, gurame, nila, patin dan ikan mas dengan rataan tingkat kelangsungan hidup ikan berkisar antara 89% - 90%.
 Dinas Pertanian Kota Metro Lampung, aplikasi vaksin Hydrovac pada ikan lele dan ikan patin dengan ukuran 5 sampai 7 cm melalui route perendaman; diperoleh rataan tingkat kelangsungan hidup ikan berkisar antara 90% - 95%.
 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis, aplikasi vaksin Hydrovac pada ikan lele dan ikan patin diperoleh tingkat kelangsungan hidup rata-rata di atas 85%. Sedangkan aplikasi vaksin tersebut pada budidaya ikan gurame ukuran 1–3 cm, 5-8 cm, 8-12 cm hingga gurame indukan diperoleh tingkat kelangsungan hidup berkisar antara 70% - 100%.
 Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi melaporkan penggunaan vaksin Hydrovac pada ikan lele dan ikan mas yang diaplikasikan melalui route perendaman dan melalui pakan, secara ringkas hasilnya dapat dilihat pada Tabel 1. Jenis Ikan Ukuran Ikan (cm) Berat Ikan Tingkat Kelangsungan Hidup (%) Lele 4 - 5 - 82 -86 Lele - 100 – 125 g 97 – 99 Lele - 200 – 250 g 97 Lele - 20 g 95 Mas - 1,8 – 2,5 kg 100 Tabel 1. Ringkasan hasil penggunaan vaksin Hydrovac pada ikan lele dan mas di wilayah binaan Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.  Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat mengaplikasikan vaksin Hydrovac pada ikan nila dan mas umur 1 - 2 bulan dan melaporkan sangat baik responnya dengan tingkat kelangsungan hidup 60 sampai 80%.  Balai Budidaya Perikanan Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi Daerah DKI Jakarta tidak melaporkan tingkat kelangsungan hidup ikan, akan tetapi Balai tersebut melaporkan bahwa dua hari pasca pemberian vaksin Hydrovac, ikan mas dan koi berumur 14 – 45 hari cenderung senang berenang ke permukaan dan kurang nafsu makan. Perilaku ikan kembali normal setelah hari ke lima pasca vaksinnasi.  Dinas Perikanan Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat melakukan aplikasi vaksin Hydrovac pada ikan lele dumbo, gurame, mas dan nila dengan kisaran umur 3 minggu - 3 bulan. Dari aplikasi vaksin tersebut diperoleh hasil sebagai berikut: pemberikan vaksin terbukti meningkatkan nafsu makan ikan sehingga pertumbuhannya meningkat sampai Jenis Ikan Umur Ikan (hari) Ukuran Ikan (inci) Kondisi ikan setelah divaksin Tingkat Kelangsungan Hidup (%) Gurame 15 0,5 Ikan normal >80 Gurame 20 0,5 Ikan sehat >80 Gurame 30 1 Gerakan kurang lincah, warna sedikit pucat tapi tidak pudar .>80 Gurame 50 1,5 Tidak terjadi gripis pada ekor dan sirip, performa lebih baik >80 Gurame 60 2 Ikan lebih cepat tumbuh dan lebih sehat >80 50%, dan tingkat kelangsungan hidup ikan mencapai 75% - 99%.
 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bangka Belitung melaporkan bahwa aplikasi vaksin Hydrovac meningkatkan respon ikan lele dumbo dan nila terhadap pakan yang diberikan; dengan rataan tingkat kelangsungan hidup berkisar antara 75% - 90%.
 Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung (Jawa Barat) melaporkan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan yang divaksin dengan vaksin Hydrovac umumnya mencapai 100%.
 Balai Benih Ikan (BBI) Punten, Kota Batu – Malang melaporkan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan yang divaksin dengan vaksin Hydrovac umumnya mencapai 100%.
 Dinas Kelautan dan Perikanan Agam, Sumatera Barat melaporkan bahwa aplikasi vaksin Hydrovac pada ikan nila dan mas dapat menurunkan tingkat kematian.
 Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bangli Bali, melaporkan bahwa aplikasi vaksin Hydrovac pada ikan nila dan mas dapat menurunkan tingkat kematian.
 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung Jawa Timur, melaporkan bahwa aplikasi vaksin Hydrovac pada ikan nila dan mas dapat menurunkan tingkat kematian. Balai Benih Ikan (BBI) Kepanjen Malang Jawa Timur, melaporkan bahwa aplikasi vaksin Hydrovac pada ikan nila dan mas dapat menurunkan tingkat kematian.
 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang Jawa Barat melaporkan bahwa aplikasi vaksin Hydrovac pada ikan nila dan mas dapat menurunkan tingkat kematian.
 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu menyatakan bahwa penggunaan vaksin Hydrovac mempunyai efek positif, antara lain ikan yang menderita mata menonjol dapat mengalami penyembuhan dan secara umum terjadi kenaikan berat ikan.
 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Barat dan Timur, melaporkan bahwa vaksin Hydrovac sangat baik untuk mencegah penyakit yang sering terjadi pada budidaya ikan air tawar. Aplikasi jenis vaksin tersebut dapat meningkatkan kelangsungan hidup rata-rata di atas 80%.
 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, melaporkan bahwa vaksin Hydrovac sangat baik untuk mencegah penyakit yang sering terjadi pada budidaya ikan air tawar. Aplikasi jenis vaksin tersebut dapat meningkatkan kelangsungan hidup rata-rata di atas 80%.
 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DI Yogyakarta, melaporkan bahwa vaksin Hydrovac sangat baik untuk mencegah penyakit yang sering terjadi pada budidaya ikan air tawar. Aplikasi jenis vaksin tersebut dapat meningkatkan kelangsungan hidup ratarata di atas 80%.  Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, melaporkan bahwa vaksin Hydrovac sangat baik untuk mencegah penyakit yang sering terjadi pada budidaya ikan air tawar. Aplikasi jenis vaksin tersebut dapat meningkatkan kelangsungan hidup rata-rata di atas 80%.  Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Karawang, melaporkan bahwa vaksin Hydrovac sangat baik untuk mencegah penyakit yang sering terjadi pada budidaya ikan air tawar. Aplikasi jenis vaksin tersebut dapat meningkatkan kelangsungan hidup ratarata di atas 80%.  Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi, melaporkan bahwa vaksin Hydrovac sangat baik untuk mencegah penyakit yang sering terjadi pada budidaya ikan air tawar. Aplikasi jenis vaksin tersebut dapat meningkatkan kelangsungan hidup rata-rata di atas 80%.  Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Ujung Batee Aceh, melaporkan bahwa vaksin Hydrovac sangat baik untuk mencegah penyakit yang sering terjadi pada budidaya ikan air tawar. Aplikasi jenis vaksin tersebut dapat meningkatkan kelangsungan hidup rata-rata di atas 80%.  Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat menjelaskan secara detail aplikasi vaksin pada ikan gurame umur 15 - 60 hari dan ukuran berkisar antara 0,5 - 2 inci yang divaksin Hydrovac melalui route perendaman. Selengkapnya disajikan pada Tabel 2.  Berdasarkan hasil uji multi lokasi, dapat disarikan bahwa vaksin Hydrovac sangat efektif diaplikasikan dalam pembudidayaan ikan mas (Cyprinus carpio) di beberapa lokasi seperti Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Efektivitas vaksin dihitung dari nilai mortalitas kumulatif, kelangsungan hidup dan biomasa. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kelompok ikan mas yang divaksin mempunyai nilai mortalitas kumulatif relatif lebih rendah, tingkat kelangsungan hidup dan produksi lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok ikan yang tidak divaksin di semua lokasi penelitian di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Vaksin Hydrovac juga dapat memberikan proteksi berdasarkan uji multi lokasi terhadap kemungkinan infeksi dari A. hydrophila strain yang lain.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
Teknologi Baru
Motile Aeromonas Septicemia (MAS) atau “penyakit merah”, disebabkan oleh infeksi bakteri Aeromonas hydrophila; merupakan penyakit bakterial yang bersifat akut, menginfeksi semua umur & semua jenis ikan air tawar, dapat mengakibatkan kematian hingga 100%, dan sering menimbulkan kerugian yang sangat signifikan. Komisi Kesehatan Ikan dan Lingkungan Nasional pada 2006 telah menetapkan jenis penyakit ini sebagai salah satu penyakit ikan utama di Indonesia. Streptococcosis merupakan penyakit infeksius yang semakin sering terjadi pada budidaya ikan nila. Kasus streptococcosis pada ikan nila di Jawa Barat dan Jawa Tengah disebabkan oleh infeksi bakteri S. agalactiae (85%) dan S. iniae (15%). Secara laboratoris, infeksi S. agalactiae pada ikan nila bersifat akut; sedangkan infeksi S. iniae lebih bersifat kronis. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa bakteri S. agalactiae berpotensi sebagai penyebab streptococcosis yang lebih serius pada budidaya ikan nila. Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar – Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya telah mengembangkan vaksin anti-Aeromonas hydrophila dengan nama ”HydroVac” dan vaksin anti-Streptococcus agalactiae dengan nama “StreptoVac” sebagai produk biologi bagi upaya peningkatan produksi perikanan budidaya air tawar nasional. Hasil kajian laboratoris dan lapang, aplikasi vaksin “HydroVac” dapat menekan tingkat kematian ikan akibat penyakit MAS berkisar 30-40% dibandingkan dengan tanpa aplikasi vaksin yang mencapai 6070%. Sedangkan hasil kajian laboratoris dan lapang, aplikasi vaksin “StreptoVac” dapat menekan tingkat kematian ikan nila akibat penyakit streptococcosis berkisar 20-30% dibandingkan dengan tanpa aplikasi vaksin yang mencapai 50-60%. Salah satu diantara beberapa keunggulan yang dimiliki oleh kedua jenis vaksin tersebut adalah kemampuannya untuk menginduksi respon kebal spesifik yang dapat bereaksi silang (cross reactivity) terhadap beberapa strain bakteri A. hydrophila (untuk vaksin Hydrovac) dan bakteri S. agalactiae (untuk Streptovac) patogen yang terdapat di beberapa wilayah pengembangan budidaya ikan air tawar. Keunggulan ini memberi harapan bahwa produk vaksin ini dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya ikan di seluruh wilayah sentra produksi ikan air tawar. Vaksinasi ikan adalah memberi bekal kekebalan (immunity) pada tubuh ikan secara dini. Teknik ini merupakan salah satu alternatif pengendalian penyakit yang perlu terus dikembangkan, karena lebih ramah terhadap lingkungan, tidak berdampak negatif terhadap ikan itu sendiri maupun terhadap manusia. Vaksinasi pada perikanan budidaya diyakini akan dapat memberi kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan produksi perikanan budidaya. Keberhasilan program vaksinasi akan berdampak langsung terhadap, antara lain: (1) menurunnya tingkat mortalitas ikan budidaya akibat infeksi patogen potensial, (2) menurunnya penggunaan antibiotik pada budidaya ikan, dan (3) menurunnya daya resistensi beberapa jenis patogen terhadap antibiotik.
Keberhasilan Teknologi
Penyakit yang menyerang ikan secara umum dikelompokkan menjadi dua yaitu penyakit infeksius dan non infeksius. Jenis penyakit non-infeksius disebabkan oleh lingkungan, makanan, dan genetik. Sedangkan jenis penyakit infeksius terdiri dari penyakit yang disebabkan oleh parasit, jamur, bakteri, dan virus. Bakteri yang bersifat patogen pada ikan adalah Aeromonas hydrophila, penyebab penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS), dan infeksi bakteri Streptococcus banyak ditemukan pada ikan nila dan menyebabkan penyakit yang disebut streptococcosis. Streptococcosis akibat infeksi Streptococcus merupakan penyakit pada tilapia yang biasa dihadapi petani ikan dalam usaha budidaya dan dapat menyebabkan kematian ikan yang tinggi.
Vaksin ”HydroVac” dan “StreptoVac” sebagai produk biologi untuk pencegahan penyakit bakteri potensial diharapkan mampu berkontribusi dalam peningkatan produksi perikanan budidaya air tawar nasional. Hasil kajian laboratoris dan lapang, aplikasi vaksin “HydroVac” dapat menekan tingkat kematian ikan akibat penyakit MAS berkisar 30-40% dibandingkan dengan tanpa aplikasi vaksin yang mencapai 60-70%. Sedangkan hasil kajian laboratoris dan lapang, aplikasi vaksin “StreptoVac” dapat menekan tingkat kematian ikan nila akibat penyakit streptococcosis berkisar 20-30% dibandingkan dengan tanpa aplikasi vaksin yang mencapai 50-60%. Penggunaan vaksin sebagai upaya pencegahan penyakit ini merupakan teknologi pengendalian penyakit ikan yang efisien, efektif, dan ramah lingkungan merupakan satu-satunya alternatif yang harus dikembangkan untuk mendukung program peningkatan produksi perikanan budidaya. Vaksinasi pada perikanan budidaya diyakini akan dapat memberi kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan produksi perikanan budidaya. Vaksinasi juga merupakan salah satu upaya pengendalian penyakit bakterial pada ikan yang ramah terhadap ikan, lingkungan perairan dan konsumen. Program vaksinasi akan meningkatkan produksi (food security) dan menjamin mutu produk perikanan (food safety), serta menjamin keberlanjutan budidaya ikan (sustainable aquaculture) air tawar yang ramah lingkungan.
PENERAPAN DALAM SISTEM USAHA KELAUTAN DAN PERIKANAN
a. Telah lulus uji mutu dari BBPMSOH dengan sertifikat pengujian Vaksin HydroVac No. TN.720/3 0 8/stfk/ F5.I /V/2012 dan Vaksin StreptoVac No. TN.720/097/stfk/F.12/II/2013.
b. Telah memiliki nomor register dari KKP, Vaksin HydroVac (KKP RI NO. D 1206203BKC) dan Vaksin StreptoVac (KKP RI NO. D 1305224 BKC).
c. Vaksin HydroVac telah dikerjasamakan dengan PT. CAPRIFARMINDO L A B O R A T O R I E S t a n g g a l 2 5 O k t o b e r 2 0 1 1 N o . 25.01/BalitbangKP.2/KL.210/X/2011 No. 017/X/11/GM/EKS/CAP-VET dengan nama Vaksin CapriVac-Aero.
d. Vaksin HydroVac dan StreptoVac mampu menginduksi respon kebal spesifik (antibodi) pada ikan. Antibodi tersebut mulai bekerja 1 – 2 minggu pasca vaksinasi, dan proteksi berlangsung selama 3 - 4 bulan. Untuk meningkatkan kadar antibodi serta periode proteksi hingga lebih dari 4 bulan, perlu dilakukan vaksinasi ulang (booster) yang diberikan 1 - 2 bulan dari saat vaksinasi pertama.
RAMAH LINGKUNGAN
Hydrovac dan Streptovac merupakan vaksin in-aktif bakteri Aeromonas hydrophila AHL0905-2 dan Streptococcus agalactiae N14G. Kedua jensi bakteri tersebut merupakan isolat lokal (indigenous species) yang telah diseleksi secara laboratories. Kedua sediaan vaksin tersebut mengandung bakteri sel utuh sebanyak 1011 cfu/ml dengan pelarut berupa larutan phosphate buffered saline (PBS) 0,845%. Botol kemasan berupa plastic PVC volume 100 ml dengan dua penutup yang kedap air dan tersegel. Produk akhir dari kedua jenis vaksin tersebut telah lulus dari hasil uji mutu yang dilakukan oleh lembaga yang sangat kompeten untuk pengujian mutu vaksin, dan lembaga tersebut (Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan/BBPMSOH) telah dua kali memperoleh akreditasi regional (ASEAN). Berdasarkan hasil uji terhadap persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh suatu produk vaksin, maka vaksin Hydrovac dan Streptovac dinyatakan LULUS. Sertifikat tersebut mengisyaratkan bahwa kedua jenis vaksin tersebut adalah murni, steril, inaktif dan aman untuk digunakan untuk ikan, tidak menghasilkan residu yang mengkontaminasi lingkungan budidaya; serta aman untuk konsumen.
WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN Lihat gambar peta distribusi vaksin pada halaman sebelumnya
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF  Jika umur ikan kurang dari 2 minggu maka vaksinasi tidak efektif karena organ yang berperan dalam pembentukan ketahanan tubuh belum berkembang sempurna.  Vaksinasi tidak efektif jika kondisi kesehatan ikan tidak prima atau ikan sakit dan suhu air di bawah 25 C atau suhu tidak stabil.o  Efektifitas vaksin akan menurun jika cara penyimpanan vaksin tidak dalam kondisi dingin atau pada refrigerator. KELAYAKAN FINANSIAL DAN ANALISA USAHA Kedua jenis vaksin sangat ekonomis karena dosis pemakaiannya adalah 100 ml vaksin untuk 1.000 liter air rendaman yang dapat digunakan untuk 50.000 benih ikan. Kisaran harga vaksin per kemasan isi 100 ml adalah sekitar Rp 60.000 – 75.000,- sehingga harga vaksin hanya Rp. 1,- /benih tetapi dapat meningkatkan kelulusan hidup ikan dan menekan mortalitasnya.
No Uraian Volume Satuan Harga Satuan Jumlah (Vaksinasi) Jumlah (Tanpa Vaksinasi ) I INVESTASI Sewa Lahan 500 m2 per thn 1 tahun 1.000.000 1.000.000 1.000.000 Peralatan perikanan 1 set 500 500 Jumlah 1.500.000 1.500.000 II BIAYA VARIABEL Benih (7-8 cm) 40 ekor 150 6.000.000 6.000.000 Pakan (vaksinasi) 147 Bal/30kg 211 31.017.000 - Pakan (tanpa vaksinasi) 110 Bal/30kg 211 - 23.210.000 Tenaga kerja (2 orang) 3 OB 300 1.800.000 1.800.000 Vaksin 3 botol 60 180 - Jumlah 38.997.000 31.010.000 III BIAYA TETAP Penyusutan Sewa lahan 3 bulan 350 350 Peralatan perikanan 1 set 165 165 Bunga Bank (12% per thn) 1.214.910 975.3 (JmlI+jmlIIx12%/12x3) Jumlah 1.729.910 1.490.300 Jumlah Biaya II+III 40.726.910 32.500.300
IV PENDAPATAN Ikan konsumsi (vaksinasi) 4 kg 12 48.000.000 - 32 ekor Ikan konsumsi (tanpa vaksinasi) 3 kg 12 - 36.000.000 24 ekor
V KEUNTUNGAN Periode 1 siklus 7.273.090 3.499.700 Tahun 3 siklus 21.819.270 10.499.100 Tabel 4. Analisa Usaha Pembesaran Ikan Lele dengan dan tanpa Aplikasi Vaksin HydroVac Tabel 5. Analisa Usaha Pembesaran Ikan Gurame dengan dan tanpa Aplikasi Vaksin Hydrovac Tabel 6. Analisa Usaha Pembesaran Ikan Nila di Kolam dengan dan tanpa Menggunakan Vaksin StreptoVac No Uraian Volume Satuan Harga Satuan Jumlah (Vaksinasi) Jumlah (Tanpa Vaksinasi)
I INVESTASI Sewa Lahan 500 m2 per thn 1 tahun 1.000.000 1.000.000 1.000.000 Peralatan perikanan 1 set 500 500 Jumlah 1.500.000 1.500.000
II BIAYA VARIABEL Benih (silet) 7.5 ekor 2.25 16.875.000 16.875.000 Pakan (vaksinasi) 173 Bal/30kg 211 36.503.000 - Pakan (tanpa vaksinasi) 125 Bal/30kg 211 - 26.375.000 Tenaga kerja (2 orang) 8 OB 300 4.800.000 4.800.000 Vaksin 1 botol 60 60 - Vaksin Booster 2 botol 60 120 - Jumlah 58.358.000 48.050.000
III BIAYA TETAP Penyusutan Sewa lahan 1 tahun 1.000.000 1.000.000 Peralatan perikanan 1 set 165 165 Bunga Bank (12% per thn) 7.182.960 5.946.000 (JmlI+jmlIIx12%) Jumlah 8.347.960 7.111.000 Jumlah Biaya II+III 66.705.960 55.161.000 IV PENDAPATAN Ikan konsumsi (vaksinasi) 2.813 kg 30 84.390.000 - 5.625 ekor Ikan konsumsi (tanpa vaksinasi) 2.063 kg 30 - 61.890.000 4.125 ekor V KEUNTUNGAN Periode 1 siklus 17.684.040 6.729.000 Tabel 5. Analisa Usaha Pembesaran Ikan Gurame dengan dan tanpa Aplikasi Vaksin Hydrovac No Uraian Volume Satuan Harga Satuan Jumlah (Vaksinasi) Jumlah (Tanpa Vaksinasi) I INVESTASI Sewa Lahan 500 m2 per thn 1 tahun 1.000.000 1.000.000 1.000.000 Peralatan perikanan 1 set 500 500 Jumlah 1.500.000 1.500.000 II BIAYA VARIABEL Benih (sangkal) 7.5 ekor 150 1.125.000 1.125.000 Pakan (vaksinasi) 63 Bal/30kg 211 13.293.000 - Pakan (tanpa vaksinasi) 51 Bal/30kg 211 - 10.761.000 Tenaga kerja (2 orang) 3 OB 300 1.800.000 1.800.000 Vaksin 1 botol 75 75 - Jumlah 16.293.000 13.686.000 III BIAYA TETAP Penyusutan Sewa lahan 3 bulan 350 350 Peralatan perikanan 1 set 165 165 Bunga Bank (12% per thn) 533.79 455.58 (JmlI+jmlIIx12%/12x3) Jumlah 1.048.790 970.58 Jumlah Biaya II+III 17.341.790 14.656.580 IV PENDAPATAN Ikan konsumsi (vaksinasi) 1.594 kg 13.5 21.519.000 - 6.375 ekor Ikan konsumsi (tanpa vaksinasi) 1.312 kg 13.5 - 17.712.000 5.25 ekor V KEUNTUNGAN Periode 1 siklus 4.177.210 3.055.420 Tahun 3 siklus 12.531.630 9.166.260
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI
Isolat lokal asli Indonesia (indigenous spesies) dan masing-masing master seed vaksin telah dilengkapi dengan data sequencing-DNA
Indikasi : HydroVac merupakan vaksin inaktif bakteri Aeromonas hydrophila-AHL0905-2 untuk pencegahan penyakit Motile Aeromonas Septicemia pada ikan air tawar
Komposisi : HydroVac mengandung 1011 cfu/ml sel utuh (whole cell) bakteri Aeromonas hydrophila-AHL0905-2 yang merupakan isolat lokal terseleksi, dan Phosphate Buffered Saline (PBS) sebagai pelarut
Indikasi : StreptoVac merupakan vaksin inaktif bakteri Streptococcus agalactiae-N14G untuk pencegahan penyakit Streptococcosis pada ikan nila.
Komposisi : StreptoVac mengandung 1011 cfu/ml sel utuh (whole cell) bakteri S. agalactiae-N14G yang merupakan isolat lokal terseleksi dan Phosphate Buffered Saline (PBS) sebagai pelarut.
Sumber:
Taukhid, Lusiastuti A.M., Sugiani D., Sumiati T., Uni Purwaningsih, 2013. Penggunaan Vaksin HydroVac dan StreptoVac untuk Pencegahan Penyakit Potensial pada Ikan Air Tawar. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

BUDIDAYA IKAN MAS

 
 
Budidaya ikan mas (Cyprinus carpio L.) telah lama berkembang di Indonesia. Selain mudah juga peluang usaha ikan mas cukup menjanjikan. Permintaan pasarnya tinggi, namun pasokan rendah. Keadan ini menjadikan harga ikan mas cukup menguntungkan. Budidaya ikan mas dilakukan dalam beberapa tahapan.

Pematangan Gonad di kolam tanah

Pematangan gonad ikan mas bisa dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran 100 m2; keringkan selama 2 – 4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam; isi air setinggi 50 – 70 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 200 kg induk; beri pakan tambahan (pelet) sebanyak 3 persen/hari.

Pematangan di kolam air deras
Pematangan gonad juga bisa dilakukan di kolam air deras. Caranya, siapkan kolam air deras ukuran 30 m2; keringkan selama 2 – 4 hari; isi air setinggi 60 – 80 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 150 kg induk; beri pakan tambahan (pelet) sebanyak 3 persen/hari. Catatan : induk jantan dan betina dipelihara terpisah.

Seleksi
Seleksi induk dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Tanda induk betina yang matang gonad : perut gendut, gerakan lamban, lubang kelamin kemerahan dan berukuran 2 – 3 kg. Tanda induk jantan : gerakan lincah, keluar cairan putih susu bila dipijit lubang kelaminnya, dan berukuran antara 0,7 – 1,0 kg.

Pemijahan dan Penetasan di kolam tanah
Pemijahan ikan mas bisa dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 12 m2; perbaiki seluruh bagiannya; keringkan selama 3 – 5 hari; isi air setinggi 60 cm dan alirkan secara kontinyu; pasang hapa ukuran panjang 4 m, lebar 2 m dan tinggi 1 m; pasang 10 buah kakaban; masukan 2 ekor induk betina; masukan pula 4 – 6 ekor induk jantan; biarkan memijah; setelah memijah ambil induk jantan dan betina; biarkan telur menetas di tempat itu.

Pemijahan dan Penetasan di bak
Pemijahan juga bisa dilakukan di bak. Caranya : siapkan bak ukuran 12 m2; keringkan selama 3 – 5 hari; isi air setinggi 60 cm dan alirkan secara kontinyu; pasang hapa ukuran panjang 4 m, lebar 2 m dan tinggi 1 m; pasang 10 buah kakaban; masukan 2 ekor induk betina; masukan pula 4 – 6 ekor induk jantan; biarkan memijah; setelah memijah ambil induk jantan dan betina; biarkan telur menetas di tempat itu.

Pendederan I
Pendederan pertama dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 1.000 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 10 – 15 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 100.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; setelah 2 minggu, sebar ke kolam lain bila penuh; panen setelah berumur 3 minggu.

Pendederan II
Pendederan kedua dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 1.000 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 10 – 15 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 40.000 ekor (telah diseleksi); beri 3 – 5 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen setelah berumur sebulan.

Pendederan III
Pendederan ketiga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 1.000 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 10 – 15 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 20.000 ekor (telah diseleksi); beri 3 – 5 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam; panen setelah berumur sebulan.

Pembesaran di kolam tanah
Pembesaran ikan mas bisa dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan sebuah kolam ukuran 1.000 m2; perbaiki seluruh bagiannya; tebarkan 10 – 15 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 60 cm dan rendam selama 5 hari; masukan 100 kg benih hasil seleksi; beri pakan 3 persen setiap hari, 3 kg di awal pemeliharaan dan bertambah terus sesuai dengan berat ikan; alirkan air secara kontinyu; lakukan panen setelah 3 bulan. Sebuah kolam dapat menghasilkan ikan konsumsi sebanyak 400 – 500 kg.

Pembesaran di kolam air deras
Pembesaan ikan mas bisa dilakukan di kolam air deras (KAD). Caranya, siapkan sebuah kolam air deras ukuran 30 m2; keringkan selama 2 – 4 hari; isi air setinggi 60 – 80 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 150 kg induk; beri pelet setiap hari secara adlibitum (beri saat lapar dan hentikan setelah kenyang; lakukan panen setelah 3 bulan. Sebuah kolam air deras dapat meghasilkan ikan konsumsi sebanyak 1 – 1,5 ton.

Pembesaran di kolam jaring apung
Pembesaan ikan mas bisa juga dilakukan di kolam jaring apung (KJA). Caranya, siapkan sebuah kolam jaring apung lapis pertama; masukan 300 kg induk; beri pelet setiap hari secara adlibitum (beri saat lapar dan hentikan setelah kenyang; lakukan panen setelah 3 bulan. Sebuah kolam jaring aung dapat meghasilkan ikan konsumsi sebanyak 1,5 – 2 ton.

SUMBER:
http://bdp-unhalu.blogspot.com
http://agusrochdianto.wordpress.com
http://ebookbrowsee.net