Rabu, 11 Maret 2020

Cara Budidaya Belut Dengan Metode GDM Yang Terbukti Mempercepat Panen





Cara budidaya belut yang telah terbukti dapat mempercepat panen. Mulai dari penyiapan tempat budidaya, pemilihan bibit belut, pakan belut, hingga cara pemanenan belut. Semua akan kami bahas secara detail pada panduan artikel berikut.

Budidaya belut sawah (Monopterus albus) saat ini mulai berkembang pesat. Hal ini tidak terlepas dari kandungan gizi belut yang cukup tinggi, selain itu cara budidaya belut tidak terlalu ribet jika dibandingkan dengan budidaya jenis ikan lainnya.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat terhadap belut, maka diperlukan usaha intensifikasi dan pembaharuan pola usaha budidaya belut. Salah satu usaha intensifikasi budidaya belut yaitu dengan menggunakan probiotik suplemen organik cair GDM spesialis ikan dan GDM Black BOS.

Cara budidaya belut secara intensif dengan menggunakan metode GDM ini adalah

1. Cara Budidaya Belut Dimulai Dengan Lokasi Budidaya

Cara budidaya belut yang pertama dimulai dengan menyesuaikan lokasi budidaya belut dengan habitat aslinya di alam. Dengan menyesuaikan lokasi budidaya belut sesuai habitat aslinya, maka akan dapat dipastikan belut dapat tumbuh secara maksimal.

Dengan begitu cara budidaya belut akan mendapatkan hasil panen yang melimpah.

Berikut syarat lokasi budidaya belut :
1.        Ketinggian lokasi budidaya belut yaitu berada di ketinggian 0 – 1200 M dpl.
2.      Suhu air ideal 25 – 32°C
3.      pH air 6 – 9
4.      Kadar Oksigen (O) terlarut 3 – 5 ppm
5.      Kadar Karbondioksida (CO) terlarut 5 – 15 ppm

2. Siapkan Tempat Untuk Budidaya Belut

Setelah dulur-dulur memahami syarat lokasi budidaya belut, maka langkah selanjutnya yaitu menyiapkan tempat untuk ternak belut. Dalam budidaya belut, terdapat 3 pilihan jenis kolam yaitu drum, kolam terpal, dan kolam tembok.

Semua pilihan ini tentu saja memiliki keuntungan dan kelemahan yang berbeda-beda.

A. Drum

Kolam drum merupakan kolam belut yang semi permanen. Yang artinya, drum yang digunakan untuk budidaya belut akan mengalami kerusakan lebih cepat daripada menggunakan kolam tembok atau terpal.

Namun kolam drum ini cukup mudah untuk dibuatnya, berikut adalah langkah-langkah membuat kolam drum :
1. Bersihkan drum hingga bersih (terutama bagian dalam drum)
2. Membuat lubang memanjang dibagian atas drum
3. Taruh drum di tanah yang datar, kemudian kasih pengganjal dibagian kiri dan kanan. Agar drum tidak terguling.
4. Buatlah saluran pembuangan dibawah drum
5. Buatlah peneduh di atas drum, yang bertujuan untuk melindungi belut dari sengatan sinar matahari.



Agar pertumbuhan lebih maksimal, maka dalam 1 drum bisa diisi 2kg bibit belut dengan ukuran bibit belut 10-12cm.

 

 

 

 

B. Kolam Terpal

Penggunaan kolam terpal ini sangat fleksibel dan efisien, karena kolam terpal dapat dibangun dimana saja dan dapat dengan mudah dibongkar pasang.

Pembuatan kolam terpal ini tidak membutuhkan banyak biaya, hanya dengan membeli terpal, bambu atau kayu sebagai penyangganya, serta perlengkapan lainnya. Berbeda dengan pembuatan kolam tembok permanen yang membutuhkan biaya lebih mahal.

Meski hanya berbahan terpal, kekuatan kolam terpal sudah teruji dan bisa dikatakan awet. Kolam terpal sendiri mampu bertahan 1 hingga 2 tahun, tergantung dari kualitas bahan terpal dan perawatan kolam saat budidaya belut.

Dalam budidaya belut, ukuran kolam terpal harus disesuaikan dengan jumlah belut. Ukuran idealnya yaitu 50 hingga 100 ekor belut per meter perseginya.

Jangan lupa juga, untuk membuat saluran pembuangan air pada kolam terpal.

C. Kolam Tembok

Kolam tembok merupakan kolam permanen yang dibangun dengan menggunakan semen atau batako. Untuk membangun kolam tembok ini membutuhkan biaya yang lumayan tinggi jika dibandingkan dengan drum ataupun kolam terpal.

Namun, kolam tembok tahan terhadap kebocoran akibat hewan perusak kolam, serta dapat memudahkan dulur-dulur untuk mengontrol air dan hewan pengganggu.

Sama seperti halnya kolam terpal, ukuran idelnya kolam tembok yaitu disesuaikan dengan jumlah belut, yaitu 50 hingga 100 ekor belut per meter perseginya. Jangan lupa untuk membuat sistem pembuangan air pada kolam tembok ya lur.


3. Buat Media Tumbuh Budidaya Belut

Setelah memutuskan untuk menggunakan jenis kolam yang digunakan dalam budidaya belut. Maka langkah selanjutnya dalam budidaya belut yaitu dengan menambahkan media pertumbuhan untuk belut.

Media tumbuh belut merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi pertumbuhan belut. Media tumbuh belut ini dimasukan ke dalam kolam.

Pada umumnya, media tumbuh belut terdiri dari :

  • Jerami
  • GDM Black Bos
  • Pupuk Organik Cair GDM Spesialis Ikan
  • Kompos
  • Pupuk TSP (Triple Super Phosphate)
  • Tanah lumpur
  • Air Bersih
  • Eceng Gondok (Alternative)

Berikut cara membuat media tumbuh belut :

1.        Lapisi dasar kolam dengan menggunakan jerami (tebal jerami kurang lebih 20cm)
2.      Gunakan GDM Black BOS secara merata, dengan dosis 2 tutup botol/M².
3.      Setelah itu, berikan lapisan kompos dengan tepat 5cm.
4.      Taburkan campuran Pupuk TSP 1kg/M²
5.      Kemudian tutup dengan menggunakan lumpur kering (ketebalan 25cm).
6.      Masukan air bersih ke dalam kolam dengan ketinggian 20cm.
7.       Berikan Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Ikan dengan dosis 6ml/m2
8.      Biarkan kolam yang berisi media tumbuh selama kurang lebih 14 hari untuk proses fermentasi.
9.      Masukan Eceng Gondok diatas kolam

Fungsi GDM Black Bos sebagai pengganti desinfektan pada persiapan kolam, mempercepat proses fermentasi media organik, mencegah hama penyakit melalui media. Sedangkan fungsi suplemen organik cair GDM Spesialis Ikan yaitu untuk menjaga kualitas air dan dapat menumbuhkan pakan alami belut.

Setelah dulur-dulur membuat media tumbuh belut, jangan lupa untuk menutup rapat kolam agar proses fermentasi berjalan lancar.

4. Pilihlah Bibit Belut Yang Baik

Setelah kolam belut terfermentasi dengan baik, maka langkah selanjutnya dalam budidaya belut yaitu dengan memilih bibit belut. Namun jangan sembarangan dalam memilih bibit belut, ada beberapa hal yang perlu dulur-dulur perhatikan dalam ternak belut, yaitu :

A. Bibit Belut Bebas Luka

Hal utama dalam memilih bibit belut yang baik yaitu pilihlah bibit belut yang terbebas dari luka. Baik luka lecet karena gesekan, ataupun luka karena penyakit. Karena luka pada belut ini dapat menular ke belut yang lainnya.

B. Belut Tidak Lemas Saat Dipegang

Setelah memilih belut yang bebas luka, langkah selanjutnya yaitu memilih belut yang tidak lemas saat dipegang. Jika bibit belut lemas ketika dipegang, maka dapat dipastikan bibit belut tersebut memiliki daya tahan yang lemah.

Dengan memilih bibit belut yang kuat / tidak lemas, diharapkan belut akan bertahan hingga dewasa dan siap untuk dipanen.

C. Pilih Belut Yang Lincah

Pilihlah bibit belut yang lincah, karena pada dasarnya belut memiliki sifat dasar yang agesif bahkan ketika belut tersebut kita pegang, belut akan berusaha untuk melepaskan diri.

Belut yang baik memiliki ciri-ciri yang tenang namun lincah.

D. Ukuran Bibit Belut Yang Seragam

Ukuran bibit belut yang seragam ini cukup penting. Karena dengan ukuran bibit belut yang seragam, maka tidak akan adanya dominasi dalam makan.

Jika ukuran bibit belut tidak seragam, maka yang belut yang besar akan mendominasi makanan. Hal ini akan membuat belut yang besar akan menjadi semakin besar, dan yang kecil akan menjadi kecil.

5. Tebar bibit Belut

Setelah dulur-dulur mendapatkan bibit belut yang sesuai dengan kriteria diatas, maka langkah selanjutnya yaitu menebar bibit belut. Saat melakukan tebar bibit belut, usahakan kapasitas kolam sesuai dengan jumlah bibit belut yang akan ditebar.

Bila kapasitas kolam tidak sesuai dengan jumlah tebar bibit belut, maka pertumbuhan belut akan lambat dan air akan cepat rusak. Berikut jumlah tebar bibit belut sesuai dengan jenis kolam :

Jenis Kolam
Jumlah Bibit
Drum
200-400 bibit
Kolam Terpal
50-100 bibit /m2
Kolam Tembok
50-100 bibit/m2
Dulur-dulur bisa melakukan tebar bibit belut kedalam kolam pada pagi hari ataupun sore hari menjelang malam, karena suhu lingkungan sekitar kolam pada saat itu sudah dingin dan sejuk. Suhu dingin dan sejuk inilah yang membuat bibit belut tidak mudah stres.

Lakukan penebaran bibit belut secara perlahan agar belut tidak mengalami stres dan mati.

6. Perawatan Belut

Setelah dulur-dulur melakukan penebaran bibit belut, maka cara budidaya belut berikutnya yaitu proses merawat belut.

Ada 3 hal yang perlu dulur-dulur lakukan dalam budidaya belut, yaitu :

A. Pengaturan Air Kolam

Pastikan air kolam memiliki kadar oksigen yang terjaga, serta kadar pH air kolam diantara 6-9. Atur juga sirkulasi air kolam dengan baik, atur seperti genangan pada habitat aslinya yaitu genangan air sawah.

Kemudian atur kedalam air kolam dengan ketinggian 20cm. Jangan terlalu dalam memberi air pada kolam, hal ini akan berpengaruh pada postur tubuh belut.

Air yang terlalu dalam dapat membuat belut lebih banyak bergerak untuk mengambil napas, sehingga pertumbuhan belut tidak akan maksimal.

B. Berikan Pakan Belut

Salah satu cara budidaya belut yang dapat memberikan hasil maksimal yaitu pemberian pakan secara tepat. Pemberian pakan yang tepat pada belut, akan dapat membuat budidaya belut menjadi lebih maksimal.

Pakan alami belut yang baik untuk pertumbuhan belut yaitu zooplankton, maggot/belatung, cacing tanah dan ikan-ikan kecil. Lakukan pemberian pakan dengan dosis 5-20% dari dosis bobot belut/hari, pemberian pakan ini dilakukan satu kali sehari yaitu pada sore hari.

Selain pakan alami, dulur-dulur juga harus memberikan pakan tambahan berula pellet yang diberikan 1x sehari dengan dosis 5% dari bobot belut/hari. Pellet harus disemprot dengan menggunakan Suplemen organik cair GDM spesialis ikan dengan dosis 10ml/kg pakan.

Dengan menggunakan suplemen organik cair GDM yang disemprotkan pada pellet, maka dapat meningkatkan kecernaan pakan dan penyerapan nutrisi pada pakan.

Usahakan pemberian pakan ini tercukupi ya lur, karena kalau tidak belut akan menjadi kanibal.

C. Berikan Suplemen Organik

Berikan suplemen organik cair GDM Spesialis Ikan yang bertujuan untuk menjaga kualitas air dan dapat menumbuhkan pakan alami belut. Dosis penggunaan Suplemen organik cair GDM ini yaitu 10ml/m² dengan interval seminggu sekali.

Cara penggunaan suplemen organik cair GDM pada budidaya belut yaitu dengan cara dicampurkan langsung pada kolam belut.

7. Proses Panen Belut
Waktu panen belut inilah yang ditunggu dulur-dulur semua. Belut sebenarnya tidak memiliki ukuran dan masa panen, karena semua tergantung dari permintaan pasar.

Namun pada umumnya waktu panen belut yang tepat adalah saat belut berumur 3 – 4 bulan atau beratnya berkisar antara 200 – 300 gram/ekor.

Namun, jika dulur-dulur melakukan cara budidaya belut sesuai dengan apa yang kami jelaskan diatas dan tidak terkendala apapun maka berat belut saat panen bisa mencapai 400 gram/ekor hanya dalam waktu 3 bulan.

Demikianlah cara budidaya belut yang terbukti dapat meningkatkan dan mempercepat hasil panen. Jika dulur-dulur ada kendala dalam proses budidaya belut, silakan kita diskusikan bareng melalui kolom komentar, livechat, ataupun whatsapp.




SUMBER :
https://gdmorganic.com/cara-budidaya-belut/

Selasa, 10 Maret 2020

PENGERTIAN KEMASAN




Pengemasan atau biasa disebut dengan pembungkusan, pewadahan atau kata lainnya pengepakan, merupakan salah satu bentuk yang memliki fungsi dalam memperpajnjang umur simpan bahan.

Kemasan adalah wadah atau pembungkus yang bermanfaat untuk mencegah atau mengurangi terjadinya kerusakan-kerusakan pada bahan yang dikemas atau dibungkusnya.

Sebelum dibuat oleh manusia, alam juga telah menyediakan kemasan untuk bahan pangan misalnya jagung dengan kelobotnya, buah-buahan dengan kulitnya, buah kelapa dengan sabut dan tempurung, polong-polongna dengan kulit potong dan lain-lain.

Manusia juga telah menggunakan kemasan untuk pelindung tubuh dari gangguan cuaca, serta agar tampak gangguan dan juga menarik. 

Di zaman modern seperti sekarang ini, masalah utama dalam kemasan menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, khususnya dalam hubungan dengan produk pangan.

Pengemasan telah mengalami kemajuan yang begitu pesat hingga berada dalam bidang ilmu dan teknologi yang semakin canggih.

Ruang lingkup bidang pengemasan pada saat itu sudah semakin luas, dari mulai bahan yang sangat beragam hingga mode atau bentuk dan teknologi pengemasan yang juga semakin canggih dan menarik.

Bahan kemasan yang difungsikan juga beragam daari mulai dari kertas, logam, fiber, gelas, dan logam, hingga bahan-bahan yang dilaminasi.

Akan tetapi, demikian pemakaian bahan-bahan misalnya papan kayu, kulit kayu, kain, karung goni, daun-daunan dan pelepah dan hingga barang-barang bekas misalnya koran dan plastik bekas yang tidak etis dan hiegeni yang digunakan sebagai bahan pengemas produk pangan.

Bentuk dan teknologi kemasan juga beragam atau terdapat jenis-jenis kemasan yang berkembang pesat hingga saat ini misalnya kemasan botol, ttetrapak, kaleng, kemasan vakum, kaleng bertekanan, corrugated box, kemasan tabung hingga kemasan aktif dan pintar (active adn intellegent packaging) yang mampu menyesukaikan dnegna kondisi lingkungan di dalam kemasan dengan kebutuhan produk yang dikemas.

Contoh kemasan yang biasa dilihat adalah kemasan minuman teh.

Minuman teh dalam kantong plastik, nasi bungkus dalam daun pisang, sekarang juga telah berkembang pesat menjadi suatu kemasan kotak-kotak katering hingga minuman anggur pun dikemas dalam botol dengan dipercantik berupa pita merah.

Susunan konstruksi kemasan juga semakin kompleks dari tingkat primer, sekunder, tertier hingga konstruksi yang tidak dapat lagi dipisahkan antara fungsinya sebagai pengemasan,

Atau sebagai unit penyimpanan misalnya pada pei kemas yang dilengkapi dengan pendingin (refrigerated container) yang terdiri atas udang beku untuk ekspor.

Di Indonesia, industri bahan kemasan juga banyak ditemukan, misalnya inustri penghasil kemasan karton, kemasan plastik, kemasan gelas, dan kemasan laminasi yang produksnya telah mengisi jutaan masyarakat Indonesia dan dunia industri.

Selain itu, saat ini dipedesaan banyak dijumpai masyarakat yang hidup dari bahan pengemas tradisional misalnya penjual daun pembungkus yang dikemas berupa daun pisang, daun jati, daun waru dan sebagainya, untuk tingkat indsutri rumah tangga terdapat suatu pengrajinan industri keranjang besek, anyaman serat, kotak, kayu, tembikar dan wadah dari lain-lain.

Industri kemasan di negara-negara maju telah berkembang menjadi perusahaan besar yang bergerak cepat seiring pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi misalnya kaleng (american Can Co ), karton (Pulp and Paper Co), plastik (Clearpack), botol plastik PET (Krones), kemasan kotak laminasi (Tetrapak, COmbibloc), kertas lapos, gelas, kertas alumunium dan lain-lain yang produknya diekspor ke mancanegara.

Industri lain yang sesuai dengan pengemasan adalah industri penutup kemasan misalnya penutup botol (Bercap), industri sealer meachine dan industri pembuat tabel dan kode pada kemasan. 

Pengertian Kemasan Secara Umum
Apa itu kemasan? Pengertian Kemasan adalah wadah atau pembungkus yang berguna untuk mencegah atau meminimalisir terjadinya kerusakan pada barang yang dikemas atau dibungkusnya. Sedangkan definisi pengemasan adalah suatu proses memberi wadah atau pembungkus kepada suatu produk.
Pengertian kemasan juga dapat diartikan sebagai suatu sistem yang disusun sedemikian rupa untuk mempersiapkan barang/ produk agar dapat didistribusikan, dijual, disimpan, dan digunakan.
Tujuan utama pemberian kemasan pada produk adalah untuk melindungi dan mencegah kerusakan terhadap apa yang dijual industri. Selain itu, kemasan juga bisa menjadi sarana informasi dan pemasaran yang baik dengan membuat desain kemasan yang kreatif sehingga lebih menarik dan mudah diingat konsumen.

Pengertian Kemasan Menurut Para Ahli

Untuk lebih memahami apa arti kemasan/ pengemasan, kita dapat merujuk kepada pendapat beberapa ahli tentang definisi kemasan. Di bawah ini adalah arti kemasan menurut para ahli:

1. Kotler dan Amstrong (2012)

Menurut Kotler dan Amstrong, pengertian kemasan adalah suatu bentuk aktivitas yang melibatkan desain serta produks, sehingga kemasan ini dapat berfungsi agar produk di dalamnya dapat terlindungi.

2. Rodriguez (2008)

Menurut Rodriguez, pengertian kemasan adalah Kemasan atau pengemasan aktif adalah wadah yang mengubah kondisi dari bahan pangan dengan penambahan senyawa aktif sehingga mampu memperpanjang umur simpan dari bahan pangan yang dikemas dan juga meningkatkan keamanan serta tetap mempertahankan kualitas.

3. Titik Wijayanti (2012)

Menurut Titik Wijayanti, definisi kemasan adalah upaya yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk memberikan informasi kepada setiap konsumennya tentang produk yang ada di dalamnya.

4. Klimchuk dan Krasovec (2006)

Menurut Klimchuk dan Krasovec, definisi kemasan adalah desain kreatif yang menghubungkan bentuk, struktur, material, warna, citar, tipografi dan elemen-elemen desain dengan informasi produk agar produk dapat dipasarkan.

5. Cahyorini dan Rusfian (2011)

Menurut Cahyorini dan Rusfian, pengertian kemasan adalah kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan yang terdiri dari desain grafis, informasi produk, serta struktur desain.

6. Danger (1992)

Menurut Danger, arti kemasan adalah wadah atau pembungkus untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk ditransportasikan, didistribusikan, disimpan, dijual, dan dipakai. Dengan adanya wadah atau pembungkus dapat membantu melindungi produk yang ada di dalamnya.

7. Kamus Besar Bahasa Indonesia

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian kemasan adalah bungkus pelindung pada suatu barang/ produk yang dihasilkan dari kegiatan mengemas.
8. Kotler dan Keller (2009: 27)
Pengertian kemasan menurut Kotler dan Keller, Pengemasan adalah kegiatan dan memproduksi wadah atau bungkus sebagai sebuah produk

Fungsi Kemasan Menurut Ahli

Fungsi dari kemasan menurut Danger (1992: 3) antara lain:
  • Pelindung produk dan menjaganya agar tetap dalam kondisi yang baik.
  • Memudahkan dalam pendistribusian secara ekonomis
  • Efektitas biaya
  • Menjual produk tersebut
Fungsi lain kemasan menurut Titik Wijayanti (2012) adalah:
  • Dapat membuat indah suatu produk dengan kemasan yang sesuai kategori produk
  • Memberikan keamanan produk supaya tidak rusak saat dipajang di toko.
  • Memberikan keamanan produk ketika proses pendistribusian produk
  • Memberikan informasi pada konsumen tentang produk itu sendiri dalam bentuk pelabelan
  • Adalah hasil desain produk yang menunjukan produk tersebut.
Menurut Simamora ada dua fungsi kemasan yang diberikan kepada suatu produk, yaitu fungsi protektif dan fungsi promosional. Berikut ini penjelasannya:

1. Fungsi Protektif Kemasan

Fungsi protektif artinya kemasan berfungsi sebagai pelindung atau keamanan produk dari hal-hal yang dapat merusak produk, misalnya iklim, proses distribusi, dan lain-lain.
Kemasan yang melindungi produk akan mencegah kerusakan dan risiko cacat yang dapat merugikan pembeli ataupun penjual.

2. Fungsi Promosional Kemasan

Seperti yang disebutkan di atas, kemasan juga dapat berfungsi sebagai media promosi atau pemasaran. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membuat kemasan yang menarik, baik dari sisi desain, warna, ukuran, dan lain-lain.
Sedangkan fungsi kemasan secara umum adalah:
  • Self Service; Kemasan menunjukkan ciri khas dari suatu produk yang dijual sehingga setiap produk satu dengan yang lain harus memiliki kemasan yang berbeda.
  • Consumer Affluence; Kemasan yang menarik dapat mempengaruhi konsumen untuk bersedia membayar lebih.
  • Company and Brand Image; Kemasan merupakan brand image perusahaan sehingga bisa menjadi salah identitas perusahaan untuk dikenal masyarakat.
  • Inovational Opportunity; Kemasan yang inovatif dapat memberikan manfaat bagi konsumen dan menguntungkan perusahaan.

Manfaat Kemasan dan Tujuannya

Louw dan Kimber (2007) mengatakan setidaknya ada tujuh manfaat dan tujuan dibuatnya kemasan suatu produk/ barang. Berikut penjelasannya:
  1. Physical Production; Pembuatan kemasan bertujuan untuk melindungi produk/ barang dari suhu, getaran, guncangan, tekanan dan sebagainya yang ada di sekitarnya
  2. Barrier Protection; Pemasangan kemasan pada suatu produk/ barang bertujuan untuk melindunginya dari hambatan oksigen uap air, debu dan lain sebagainya.
  3. Containment or Agglomeration; Pengemasan barang juga bertujuan untuk pengelompokkan sehingga proses penanganan dan transportasi menjadi lebih efisien.
  4. Information Transmission; Pada kemasan juga dapat dicantumkan mengenai cara menggunakan transportasi, daur ulang, dan membuang kemasan atau label tersebut.
  5. Reducing Theft; Pemasangan kemasan pada produk/ barang juga bertujuan untuk mencegah pencurian dengan melihat kerusakan fisik pada kemasan.
  6. Convenience; Kemasan merupakan fitur yang menambah kenyamanan dalam distribusi, penanganan, penjualan, tampilan, pembukaan, kembali penutup, penggunaan dan digunakan kembali.
  7. Marketing; Desain kemasan dan label dapat dimanfaatkan oleh pemasar untuk mendorong calon pembeli untuk membeli produk.

Jenis Kemasan/ Pengemasan

Jenis-jenis kemasan atau pengemasan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu:

1. Berdasarkan Struktur Isi

Jenis kemasan berdasarkan struktur isi adalah wadah yang dibuat sesuai dengan isi dari kemasan tersebut. Jenis kemasan ini dapat dibedakan menjadi tiga, diantaranya:
  • Kemasan Primer; pengertian kemasan primer adalah bahan kemas yang menjadi wadah langsung bahan makanan. Misalnya kaleng susu, botol minuman, dan lain-lain.
  • Kemasan Sekunder; pengertian kemasan sekunder adalah wadah yang berfungsi memberikan perlindungan terhadap kelompok kemasan lainnya. Misalnya, kotak kardus untuk menyimpan kaleng susu, atau kotak kayu untuk menyimpan buah, dan lain-lain.
  • Kemasan Tersier; pengertian kemasan tersier adalah kemasan yang digunakan untuk menyimpan atau melindungi produk selama proses pengiriman.

2. Berdasarkan Frekuensi Pemakaian

Jenis kemasan juga dapat dikelompokkan berdasarkan frekuensi pemakaiannya. Beberapa jenis kemasan ini diantaranya:
  • Kemasan Disposable; yaitu kemasan sekali pakai yang hanya digunakan sekali saja lalu dibuang. Misalnya wadah plastik, bungkus daun pisang, dan lain-lain.
  • Kemasan Multi Trip; yaitu kemasan yang dapat digunakan berkali-kali oleh konsumen dan dapat dikembalikan kepada agen penjual agar digunakan kembali. Misalnya, botol minuman.
  • Kemasan Semi Disposable; yaitu kemasan yang tidak dibuang karena dapat digunakan untuk hal lain oleh konsumen. Misalnya, kaleng biskuit.

3. Berdasarkan Tingkat Kesiapan Pakai

Kemasan dapat juga dikelompokkan berdasarkan tingkat kesiapan pakainya, diantaranya:
  • Kemasan Siap Pakai; yaitu jenis kemasan yang siap untuk diisi dan bentuknya telah sempurna sejak diproduksi. Misalnya botol, kaleng, dan lain-lain.
  • Kemasan Siap Dirakit; yaitu kemasan yang membutuhkan tahap perakitan sebelum diisi produk/ barang. Misalnya, plastik, aluminium foil, kertas kemas.

Tips Membuat Kemasan yang Menarik

Setelah mengetahui pengertian kemasan beserta fungsi dan tujuan pembuatan kemasan, lalu bagaimana cara membuat kemasan yang menarik? Berikut ini tips-tipsnya:

1. Membuat Desain Kemasan yang Unik

Salah satu point penting dalam membentuk kemasan adalah dengan mendesainnya secara unik, inovatif dan berbeda dari produk lainnya. Kemasan yang unik sangat efektif untuk menarik minat masyarakat dan membuat penasaran.
Sebagai contoh misalnya ketika di rak supermarket berderet kemasan berbentuk kotak, kemudian Anda membuat kemasan yang berbentuk bulat maka secara otomatis konsumen akan mengamatinya dengan seksama dan penasaran tentang isi didalamnya.

2. Desain Kemasan Sesuai Target Market

Desain kemasan yang digunakan hendaknya disesuaikan dengan target pasar. Misalnya jika target pasar Anda adalah anak-anak usia 5-12 tahunan maka buatlah  desain kemasan bisa ditambahkan gambar kartun yang paling digemari anak-anak atau dengan bentuk kemasan yang menyerupai mainan. Begitu juga jika targetnya orang dewasa maka desain juga harus menyesuaikan.

3. Membuat Kemasan dengan Beberapa Ukuran

Jika produk yang Anda jual merupakan produk baru, usahakan untuk membuat kemasan dengan berbagai ukuran misalnya small, medium dan large. Masyarakat cenderung akan memilih kemasan yang paling kecil untuk produk yang baru dirilis.

4. Mencantumkan Informasi Produk Secara Lengkap

Jangan lupa untuk mencantumkan informasi produk pada kemasan. Misalnya secara standar kemasan mencantumkan komposisi produk, jenis produk, cara penggunaan dan tanggal kadaluarsa. Konsumen cenderung tidak tertarik pada produk yang memiliki informasi minim.




Sumber :
https://www.artikelsiana.com/2018/02/pengertian-kemasan-tujuan-fungsi-jenis-jenis-kemasan-menurut-para-ahli.html