Jumat, 05 Juli 2019

CARA MEMULAI USAHA BUDIDAYA NILA








Untuk memulai usaha pembenihan ikan nila, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan tempat
pembenihan. Tempat pembenihan atau kolam bibit ikan nila tersebut berupa kolam yang nantinya akan digunakan ikan nila untuk berkembangbiak. Untuk pembenihan diperlukan 4 type kolam, masing-masing type kolam memiliki fungsi yang berbeda sesuai dengan fase pertumbuhan ikan. Kolam pembenihan ikan nila dibuat sebaik mungkin agar usaha pembenihan berlangsung dengan baik.
Berikut ini keempat type kolam pembenihan ikan nila tersebut ;
a). Kolam indukan
Kolam indukan adalah kolam yang berfungsi untuk memelihara indukan ikan nila. Indukan terdiri dari ikan nila jantan dan betina. Ukuran kolam untuk indukan disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan lahan. Kolam indukan tidak harus berukuran besar tetapai harus memiliki kedalaman yang cukup untuk ikan dewasa. Kedalaman kolam indukan antara 1 – 1,4 meter. Indukan jantan dan betina harus ditempatkan pada kolam yang berbeda, sehingga diperlukan 2 buah kolam indukan.
b). Kolam pemijahan
Kolam pemijahan adalah kolam yang digunakan untuk mengawinkan indukan. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Kolam pemijahan sebaiknya berlantai tanah dan pada dasar kolam dibuat kemalir atau kubangan-kubangan. Untuk kolam pemijahan hanya diperlukan 1 buah kolam saja.
c). Kolam pemeliharaan larva
Kolam pemeliharaan larva adalah kolam yang digunakan untuk memelihara larva-larva ikan nila yang sudah menetas. Kolam yang digunakan bisa berupa bak, drum, bak semen, kolam tanah atau jaring halus (hapa). Hapa adalah jaring khusus berukuran kecil untuk memelihara larva ikan, bentuk hapa mirip dengan kelambu. Hapa diletakkan mengapung diatas kolam.
d). Kolam benih
Kolam benih adalah kolam yang digunakan sebagai tempat pendederan benih ikan nila atau kolam tempatmembesarkan benih. Ukuran kolam benih juga dibuat sesuai dengan kebutuhan, tergantung banyaknya benih yang diproduksi. Benih ikan ditempatkan pada kolam pembesaran sampai benih ikan siap untuk dibesarkan dikolam pembesaran atau kolam budidaya. Biasanya benih ikan siap dibesarkan ketika panjang tubuhnya berukuran 10 – 12 cm.

2. Pemilihan Indukan Ikan Nila
Langkah kedua dalam usaha pembenihan ikan nila adalah memilih indukan jantan dan indukan betina yang akan dikawinkan. Jika kolam pembenihan sudah disiapkan, selanjutnya adalah memilih indukan. Untuk menghasilkan bibit ikan nila yang berkualitas, sebaiknya calon indukan menggunakan galur murni yang secara genetis memiliki sifat-sifat unggul. Calon indukan unggul bisa diperoleh di balai perikanan setempat atau menghubungi BBPBAT (Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar) setempat.
Ciri-ciri calon indukan ikan nila yang berkualitas baik adalah sebagai berikut ;
a). Calon indukan jantan dan betina adalah galur murni yang berasal dari keturunan yang berbeda.
b). Calon indukan memiliki bentuk tubuh yang normal, tidak cacat dan kondisi fisiknya sehat.
c). Calon indukan memiliki sisik-sisik yang besar dengan susunan sisik yang rapi.
d). Calon indukan memiliki ukuran pada bagian kepala yang relatif kecil dibandingkan tubuhnya.
e). Calon indukan memiliki warna yang mengkilap dan tubuhnya tebal.
f). Calon indukan terlihat sangat aktif, gerakannya lincah dan sangat responsif terhadap pemberian pakan.
Indukan ikan nila bisa berproduksi hingga usianya 2 – 3 tahun. Namun untuk pembenihan sebaiknya menggunakan indukan yang berusia maksimal 2 tahun. Indukan yang berusia lebih dari 2 tahun akan menghasilkan benih yang kurang baik, jumlah telurnya juga semakin sedikit. Indukan ikan nila bisa dipijahkan kembali setelah 4 – 6 minggu kemudian. Indukan ikan nila betina sudah siap dipijahkan ketika usianya mencapai 5 atau 6 bulan. Pada masa itu indukan betina sudah memasuki matang gonad. Indukan ikan nila yang akan dipijahkan setidaknya bobot tubuhnya telah mencapai 200 atau 250 gram untuk indukan betina, dan 250 atau 300 gram untuk indukan jantan.

3. Pemeliharaan Indukan Ikan Nila
Untuk menghindari terjadinya pemijahan liar, sebaiknya indukan ikan nila jantan dan betina ditempatkan pada kolam yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk menghindari terbentuknya benih yang kurang berkualitas. Siapkan dua kolam untuk pemeliharaan indukan, satu kolam untuk indukan jantan dan satu kolam lainnya untuk indukan betina. Induk jantan ditempatkan bersama induk jantan lainnya dan induk betina disatukan dengan induk betina yang lain pada kolam lainnya. Kepadatan tebar untuk kolam pemeliharaan indukan adalah 3 atau 5 ekor / m2 kolam.
Kolam pemeliharaan indukan jantan dan indukan betina dibuat terpisah dan harus memiliki sumber air dari tempat yang berbeda. Buangan air dari kolam indukan jantan jangan sampai masuk kekolam indukan betina, sebaliknya buangan air kolam indukan betina juga jangan sampai masuk ke kolam indukan jantan. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemijahan secara liar, sebab ada kemungkinan sperma jantan akan terbawa air kekolam indukan betina dan akan terjadi pembuahan.
Pemberian pakan juga harus diperhatikan, kandungan protein pada pakan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan gonad. Untuk pemeliharaan indukan diperlukan pakan dengan jumlah 3% dari bobot tubuh ikan per hari. Supaya pertumbuhan gonad indukan betina bisa maksimal pakan yang diberikan harus mengandung protein yang tinggi. Untuk pembesaran ikan nila hanya diperlukan pakan dengan kadar protein sekitar 2%, tetapi untuk calon indukan sebaiknya pakan yang diberikan harus mengandung kadar protein lebih dari 35%.

4. Pemijahan Ikan Nila
Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar yang sangat mudah sekali dipelihara dan dipijahkan. Bahkan ikan nila mudah memijah secara alami. Untuk kolam pemijahan sebaiknya dasar kolam didesain miring dengan tingkat kemiringan sekitar 2 atau 5%. Pada dasar kolam atau lantai kolam pemijahan dibuat kubangan-kubangan (kemalir) sedalam 20 atau 30 cm. Kubangan-kubangan tersebut nantinya akan digunakan indukan sebagai tempat memijah. Pemijahan ikan nila bisa dilakukan secara massal dengan perbandingan jumlah indukan jantan dan indukan betina 1 : 3 (1 indukan jantan dan 3 indukan betina). Kepadatan tebar kolam pemijahan adalah 1 ekor indukan per m2.
Pemijahan ikan nila pada umumnya berlangsung pada hari ke tujuh sejak indukan dimasukkan kekolam pemijahan. Pemberian pakan selama proses pemijahan sebaiknya harus mengandung protein yang tinggi, yaitu pakan yang memiliki kadar protein diatas 35%. Pemijahan akan terjadi pada kubangan-kubanagan (kemalir) yang telah dibuat didasar kolam. Indukan betina akan mengeluarkan telur pada tempat tersebut dan kemudian akan dibuahi oleh indukan jantan. Setelah dibuahi telur-telur akan dierami oleh indukan betina didalam rongga mulutnya.
Indukan betina akan mengerami telur didalam mulutnya selama sekitar 7 hari. Selama proses pengeraman tersebut pemberian pakan sebaiknya dikurangi, karena saat mengerami telur indukan betina tidak makan alias berpuasa. Hal ini juga akan mengurangi biaya produksi dan pengeluaran biaya untuk pembelian pakan bisa ditekan.
Setelah 7 hari biasanya telur-telur dierami didalam mulut indukan betina akan menetas menjadi larva. Sebaiknya saat melakukan persiapan kolam diberikan pupuk dasar supaya pakan alami akan tumbuh didalam kolam. Pakan alami tersebut berguna sebagai pakan larva ikan nila yang baru menetas. Induk betina akan mengeluarkan larva dari mulutnya secara serempak jika ia merasa didalam kolam banyak tersedia pakan alami untuk anak-anaknya. Larva ikan nila yang sudah menetas dan sudah dikeluarkan dari mulut induk betina segera dipindahkan ke kolam pemeliharaan larva. Larva dipindahkan kekolam pemeliharaan larva setelah berumur 5 sampai 7 hari setelah menetas.

5. Pemeliharaan Larva Ikan Nila
Larva yang sudah berumur 5 – 7 hari setelah menetas dipindahkan kekolam khusus pemeliharaan larva yang sudah dipersiapkan. Pemindahan dilakukan menggunakan saringan halus secara hati-hati. Kolam pemeliharaan larva ikan nila bisa berupa bak plastik, kolam semen, drum, akuarium, hapa (jaring halus) atau kontainer. Kepadatan tebar larva per meter persegi antara 100 – 200 ekor larva.
Setelah dipindahkan kekolam pemeliharaan, larva juga harus diberikan pakan agar bisa tumbuh dengan baik. Pakan yang diberikan berbentuk tepung halus dan memiliki kadar protein tinggi. Berikan pakan secukupnya, dalam satu hari pakan diberikan sebanyak 4 atau 5 kali. Pakan laternatif lain untuk larva ikan nila adalah kuning telur ayam yang direbus. Caranya dengan melumatkan 1 butir kuning telur rebus yang dilarutkan dengan 500 ml air bersih. Pakan diberikan dengan cara disemprotkan menggunakan hand sprayer, setiap kali pemberian pakan diberikan sebanyak 100 ml.
Pembesaran larva ikan nila berlangsung selama 3 sampai 4 minggu atau sampai ukuran larva mencapai 2 atau 3 cm. Setelah mencapai ukuran tersebut, larva dipindahkan lagi kekolam pendederan. Sebab daya tampung kolam sudah tidak memadai lagi untuk ukuran larva tersebut. Jika ukuran kolam memungkinkan, larva tidak harus dipindahkan dan bisa dipelihara seterusnya didalam kolam tersebut.

6. Pendederan Benih Ikan Nila
Kolam untuk pendederan benih sebaiknya dibuat dengan ukuran yang lebih besar, sebab ukuran tubuh benih ikan juga semakin besar. Pada tahap ini, peternak bisa membuat benih ikan nila menjadi berjenis kelamin jantan semua. Benih nila jantan pertumbuhannya lebih cepat daripada ikan betina. Ini bisa dilakukan jika budidaya hanya ditujukan untuk usaha pembesaran, yaitu untuk keperluan ikan konsumsi. Untuk menghasilkan benih ikan berjenis kelamin jantan semua bisa dilakukan dengan pemberian hormon 17 alpha methyltestosteron. Hormon tersebut diberikan pada tahap pendederan larva.
Catatan : Tetapi sebaiknya cara menghasilkan jenis kelamin jantan menggunakan hormon 17 alpha methyltestosteron tidak dilakukan. Sebab cara ini sudah tidak dianjurkan lagi. Dikhawatirkan penggunaan hormon tersebut bisa menyebabkan efek negatif bagi yang mengkonsumsi.

Kepadatan tebar pada tahap pendederan benih setiap meter persegi adalah 30 sampai 50 ekor benih. Lama pendederan benih sampai benih ikan siap dipindah kekolam pembesaran adalah 4 sampai 6 minggu. Pada saat itu kira-kira benih ikan nila sudah memiliki ukuran panjang tubuh 10 – 12 cm. Pakan yang diberikan pada tahap ini adalah pakan yang memiliki kadar protein antara 20 – 30%. Pakan diberikan 2 atau 3 kali dalam sehari. Banyaknya pakan yang diberikan adalah 3% dari bobot tubuh ikan.
Jika sudah berumur 4 – 6 minggu didalam kolam pendederan dan ukurannya mencapai 10 – 12 cm, benih ikan sudah siap untuk dijual atau dibesarkan sendiri dikolam pembesaran. Namun masa pendederan bisa lebih lama jika ukuran benih yang diinginkan lebih besar. Sebab kadang-kadang konsumen membutuhkan benih yang lebih besar dari ukuran tersebut. Sehingga lama pendederan bisa disesuikan dengan permintaan pasar atau konsumen.

7. Panen Benih Ikan Nila
Pemanenan benih ikan nila disesuiakan dengan permintaan pasar atau konsumen. Jika konsumen menginginkan ukuran benih yang standar (10 – 12 cm) panen benih bisa dilekukan lebih cepat. Tetapi jika konsumen menginginkan benih dengan ukuran yang lebih besar maka panen dilakukan sesuai dengan kenginan konsumen atau pembeli. Pemanenan benih ikan nila sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Kemudian benih ikan nila dikemas dengan baik. Benih dikemas dalam wadah tertutup untuk pengiriman jarak jauh. Sedangkan untuk jarak dekat pengemasan dengan wadah terbuka masih bisa dilakukan. Untuk pengiriman jarak jauh biasanya benih dikemas dalam kantong-kantong plastik berwarna putih transparan. Kantong plastik diisi air 1/3 dari ukuran wadah tersebut selebihnya diisi dengan oksigen.

Kamis, 04 Juli 2019

USAHA BUDIDAYA PERIKANAN





Usaha budidaya ikan air tawar semakin hari semakin menggiurkan. Menurut laporan Badan Pangan PBB, pada tahun 2021 konsumsi ikan perkapita penduduk dunia akan mencapai 19,6 kg per tahun. Meski saat ini konsumsi ikan lebih banyak dipasok oleh ikan laut, namun pada tahun 2018 produksi ikan air tawar akan menyalip produksi perikanan tangkap. Mengapa demikian, karena produksi perikanan tangkap akan mengalami penurunan akibat overfishing. Ikan di laut semakin sulit didapatkan. Bahkan bila tidak ada perubahan model produksi, para peneliti meramalkan pada tahun 2048 tak ada lagi ikan untuk ditangkap. Dengan kata lain tidak akan ada lagi menu seafood di piring kita! Oleh karena itu diperlukan peningkatan produksi budidaya ikan air tawar sebagai subtitusi ikan laut. Sehingga kita bisa memberikan ruang kepada biota laut untuk berkembang biak.
Budidaya ikan air tawar secara tradisional maupun intensif bisa dilakukan di kolam/empang. budidaya juga bisa dilakukan di perairan umum menggunakan karamba atau karamba jaring apung. Berbagai metode budidaya bisa digunakan dengan disesuaikan potensi daerah. Berikut ini dibahas berbagai metode budidaya ikan air tawar.
Usaha budidaya ikan merupakan sektor yang akan terus ada permintaannya. Bahkan saat ini kebutuhan ikan terus mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk dari waktu ke waktu.
Hasil budidaya ikan air tawar yang ada sekarang ini belumlah mampu mencukupi permintaan pasar dalam negeri. Apalagi untuk kebutuhan luar negeri.
Tentu prospek yang ada semakin terbuka jika kita mampu memahami perdagangan ekspor impor. Selain itu, budidaya ikan air tawar terbilang sangat mudah jika dibandingkan dengan ikan air laut.
A. Metode Kolam/Empang
Kolam pembesaran ikan air tawar bisa dibuat di daerah pegunungan maupun di dataran rendah. Pemilih lokasi yang tepat dan benar sangat mempengaruhi keberasilann budidaya ikan air tawar. Beberapa persyaratan untuk dapat melakukan budidaya ikan air tawar adalah sebagai berikut :
1.    Sumber air, lokasi budidaya harus mempunyai sumber air yang memadai. Untuk sumber air ini bisa berupa sungai, aliran irigasi, maupun mata air. Suplai air sedapat mungkin tersedia sepanjang tahun dengan debit yang memadai. Contoh, untuk budidaya ikan karper (Cyprinus carpio) memerlukan suplai air dengan debit 10-16 liter/detik/Ha
2.    Jenis tanah dan kemiringan, dasar pertimbangan utama untuk membangun kolam adalah jenis dan kemiringan. Lahan untuk kolam sebaiknya adalah tanah yang liat atau lempung berpasir (sandy clay) sehingga tidak porus. Tanah harus mampu menahan massa air yang besar dan tidak mudah bocor sehingga dapat dibuat pematang. Syarat ini tidak berlaku bila kolam dibuat permanen, misalnya dengan kontruksi semen. Lahan untuk lokasi kolam budidaya sebaiknya mempunyai kemiringan 5-10 derajat. Kondisi yang demikian akan memudahkan pengairan air secara gravitasi.
3.    Kualitas air, kualitas air pada lokasi budidaya harus memenuhi persyaratan untuk hidup sehat ikan yang di budidayakan. Air harus jernih dan mudah dialirkan, tidak tercemar senyawa beracun, dan juga dapat menumbuhkan pakan alami. Nilai kualitas air untuk masing-masing jenis ikan air tawar berbeda. Secara umum parameter kualitas air untuk budidaya ikan yang baik adalah : Suhu air : 25-30 drajat C. pH air :6,5-8,5. DO (Oksigen terlarut) :minimal 3 ppm Kadar Amonia (NH3) :maksimal 0,5 ppm
4.    Jauh dari tempat pembuangan limbah, lokasi budidaya harus jauh dari limah industri maupun limbah rumah tangga. Limbah akan mencemari air sehingga kualitas air tidak memenuhi syarat untuk pertumbuhan ikan. Bila kadar pencemaran limbahnya tinggi maka ikan yang dibudidayakan akan mati.
Selain faktor-faktor di atas, perlu dipertimbangkan juga kemudahan pengadaan sarana produksi. Bila bibit, pakan, dan obat-obatan mudah di peroleh maka biaya produksi akan dapat ditekan. Yang tidak kalah pentingnya adalah pemasaran, seperti pasar tradisonal, supermarket, restoran, hotel, swalayan. Sarana transportasin untuk menuju ke tempat pemasaran pun perlu mendapatkan perhatian.

Faktor keamanan perlu dipertimbangkan sebelum usaha budidaya dimulai. Gangguan kejahatan, hama penyakit, dan bencana alam dapat mengurangi prduksi, bahkan mendatangkan kerugian yang tidak sedikit.

Kolam  untuk budidaya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu kolam air tenang, kolam air deras, dan kolam terpal.

Kolam Air tenang
Kolam air tenang cocok untuk budidaya ikan yang bisa hidup di air tenang, seperti gurami, nila, lele, dan gabus. Kolam air tenang mempuny7ai berbagai komponen penting sebagai berikut:
1.    Pematang, pematang dibuat dengan bentuk trapesium, lebih lebar bagian bawah. Hal ini di maksudkan agar tidak mudah longsor. Kemiringan pematang sebaiknya tidak lebih dari 45 drajat. Untuk membuat kolam perlu dilakukan pencangkulan bagian tengah, memindakan tanahnya ke tepi, membentuk pematang. Untuk mencegah tebing pematang longsor, tebing bisa ditanami rumput pahit (paspalum conjugatum), atau rumput gerinting (cynodon daction). kedalaman kolam pembesaran adalah 100-150 cm. Ketinggian air dari dasar kolam bisa diatur dari ketinggian 50-120 cm, tergantung ukuran bibit dan padat penebaran. Saat ikan sudah mulai besar dengan populasi yang padat, ketinggian air bisa ditambahi hingga 120 cm.
2.    Saluran pemasukan dan pembuangan air, saluran pemasukan air (in-let) dibuat di dekat saluran utama (main-inlet). atau dari air masuk yang jernih. Saluran pemasukan air harus dibuat terpisah dengan saluran pembuangan (out-let). Dengan adanya sistem air masuk dan keluar yang terpisah, air bersih tidak akan tercampur denan air pembuangan sehingga apabila terjadi serangan penyakit, air yang tercemar penakit tidak akan menulari kolam lain yang masih sehat. Hanya air yang bersih yang boleh masuk ke kolam budidaya.
3.    Pemasukan dan pengeluaran air, pemasukan air pada petakan kolam melalui pipa paralon yang sudah disusun sebagai sistem sifron, juga dengan pipa goyang. Mekanisme kerjanya adalah dengan sistem pipa U. Jika akan memasukan air, sistem pemasukanya diangkat dan saat membuang air pipa pembuangan diangkat. Pipa goyang terbuat dari pipa pralon (PVC) dengan diameter 3-4 cm.
4.    Dasar kolam, untuk memudahkan pengeringan kolam, dasar kolam dibuat miring. Drajat kemiringan cukup 1%, yang artinya tiap 100 cm,dasar kolam miring 1 cm. Kemiringan dasar kolam arahnya ke kowean dan caren.
5.    Kowean dan caren, kowean dibuat ditenah kolam atau di pinggir kolam dengan ukuran 1 x 1 x 0,4 m dan diberi tanggul keliling sehingga terbentuk kolam didalam kolam. Kowean bisa digunakan untuk menebar bibit, yaitu dengan mengisi kolam hanya pada bagian kowean saja, ataupun digunakan sebagai tempat menangkap ikan saat panen. Pipa pralon dan keni dipasang rata dengan dasar kowean dan rata dengan tanah di luar kolam. Pipa pralon di bawah kolam di buat dengan lubang-lubang kecil dan dibungkus strimin agar saat pipa goyang di luar kolam maka ikan tidak ikut tersedot keluar. Caren berfungsi sebagai saluran untuk menggiring ikan ke kowean saat panen. Caren dibuat dengan lebar 50-70 cm, dalamnya 25-30 cm. Selain mempermudah pemanenan, caren juga untuk mengalirkan air sehingga pengeringan bisa tuntas.


SUMBER :
https://www.viternaplus.com/2015/11/tempat-budidaya-ikan-air-tawar.html

Senin, 01 Juli 2019

Ikan Cupang (Betta splendens)


Ikan cupang (Betta splendens) bukanlan ikan asli Indonesia, meskipun Indonesia mempunyai ikan yang masih semarga dengan ikan ini yakni Betta fasciatus, alias Stiped fightingfish, yang lebih dikenal dengan nama Tempalo.
Ikan ini  pertama kali ditemukan di perairan Thailand, Malaysia. Sekalipun  dahulu belum mengetahui kehebatanya bertarung, namun salah satu yang sering mendapatkan perhatian adalah sijantan mempunyai warna yang menarik, selain itu juga muda diurus, karena tahan ditempatkan dalam wada yang berukuran kecil serta muda beradaptasi.
Ikan cupang tahan hidup pada lokasi/wadah yang sempit karena cupang mempunyai lebirinth, yaitu perangkat pernapasan tambahan yang terletak pada sebelah rongga insangnya. Dengan alat canggih nyang konstruktif ini cupang mampu mengkonsumsi osigen langsung dari udara bebas, yang jarang bias dilakukan oleh ikan lain. Kenyataan ini gampang dideteksi apabila kita perhatikan bahwa setiap beberapa menit cupang menyembulkan moncongnya ke permukaan air.
Ikan bertulang sejati adalah kelas dari anggota hewan bertulang belakang yang merupakan subfilum dari Pisces. Ikan ini biasa juga disebut dengan Osteichthyes.

Osteichthyes berasal dari bahasaYunani, yaitu osteon yang berati tulang dan ichthyes yang berarti ikan. Hidup di laut, rawa-rawa, atau air tawar (Broto,1989). Yang termasuk dari Kelas Osteichthyes dari ordo labyrinthici dari familia Anabantiadae adalah spesies Betta sp. Ikan ini berasal dari Thailand sekitar tahun 1960 yaitu cupang adu dengan bentuk tubuh kekar, warna hitam legam dengan sirip pendek dan bersifat kaku.

Cupang sawah (Trichopis schalleri) merupakan ikan pertama penyandang nama cupang. Makananan ikan cupang yang umum adalah kutu air (Daphinia Sp) (Kimball,1983). Hingga sekarang Ikan cupang (Betta sp.) adalah salah satu jenis hewan peliharaan yang mempunyai daya tarik pada warna yang dimunculkan dari tubuhnya. Berbagai warna-warni indah pada ikan pada dasarnya dihasilkan oleh sel-sel pigmen (chromatophore) yang terletak pada kulit ikan. 

Ikan cupang (Betta sp.) adalah salah satu jenis hewan peliharaan yang mempunyai daya tarik pada warna yang dimunculkan dari tubuhnya seperti bentuk, tampilan dan warnanya (Mukayat,1989). Ciri Morfologi Ikan Cupang spesies Betta splendens, kecil (panjang sekitar 7,5 cm), ikan dalam keluarga ikan gurami (Osphronemidae) asli untuk memperlambat bergerak dan stagnan. Perairan ditumbuhi di Thailand, Viet Nam, Kamboja dan Laos. 

Karakteristik dari Anabantoidei subordo mana mereka berasal, Betta splendens memiliki organ pernapasan aksesori yang disebut organ labirin yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen rendah, dengan menghiru.
Di Indonesia ikan ini berasal dari sumatra, jawa, singapura dan malaysia. Ikan ini bersifat karnivora dan bersifat sangat agresif terutama untuk yang jantan. Dipasaran ada dua jenis cupang yaitu  cupang adu dan cupang hias. Cupang hias memiliki sirip yang panjang dan bersifat tenang sedangkan cupang adu memiliki sirip yang pendek dan sangat agresif. Cupang meilikiki berbagai jenis warna mulai dari biru tua, merah tua, albino, kehijauan (Radiopoetro, 1998).

Karakteristik dari Anabantoidei subordo mana mereka berasal, Betta splendens memiliki organ pernapasan aksesori yang disebut organ labirin yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen rendah, dengan menghirup udara dari permukaan (Djarubito,1993). Ciri seksualitas primer dan sekunder. Ikan cupang cukup mudah dikenali dengan pengamatan secara visual dari ciri kelamin sekundernya.

KLASIFIKASI IKAN CUPANG
          Ikan cupangmempunyai daftar klasifikasi yang panjang. Daftar klasifikasi yang popular dengan sebutan sistematika ikan tersebut adalah sebagai berikut:

Filum            : Chordata
Subfilum       : Craniata
Superkelas    : Gnathostomata
Kelas            : Osteichthyes
Subkelas       : Actinopterygii
Superordo     : Teleostei
Ordo            : Percomorphoidei
Subordo       : Anabantoidei
Famili           : Antibantidae
Genus           : Betta
Spesies         : Betta splendens


MORFOLOGI IKAN CUPANG
Bettea splendens alam-yang diambil dari alam aslinya merupakan ikan yang mempunyai postur badan memanjang, dan bila diliat dari depan atau dari belakang mempunyai potongan badan yang pipih kesamping (compressed). Sebagai ikan liar, ternyata badannya mirip dengan bunglon, beragam tergantung alam yang membentuknya. Beberapa spesimen yang tergolong cantik mempunyai warna badan dasar coklat kemerah-merahan dengan corak kebiru-biruan. Semua sisi sangat dekoratif dan warnanya sangat beragam. Sirip punggung sangat lebar dan terentang sampai kebelakang, walaupun badannya tidak terlalu besar tapi keliatan kokoh dan menawan. Sirip ekornya berbentuk membulat (rounded) berwarna dasar sama dengan badannya.
 Sirip ekor ini strip berwarna dasar sama dengannya. Sirip ekor ini  juga dihiasi dengan strip berwarna sedikit kehijau-hijauan, sering kali ujungnya berwarna oranye. Sirip analnya berwarna hijau kebiru-biruan, juga memanjang, memantapan eksistensinya sebagai ikan jago berkelahi. Sirip anal ini kadang-kadang dibubuhi warna coklat dan merah. Sirip perutnya juga panjang dan warna merah oranye. Hanya saja, ujang siripnya sering kali dihiasi warna putih susu. Ukuran badan ikan cupang ini untuk yang jantan mencapai 5 - 6 cm, tapi untuk betina biasanya ukuran badannya lebih kecil dari badan jantan.

PEMILIHAN INDUK
Induk cupang yang hendak dipijahkan apabila sudah mencapai umur sekitar 6-7 bulan, dengan panjang total antara 5-6 cm. Induk-induk harus sehat, tidak cacat badannya atau mengidap salah satu penyakit. Pejantan belum pernah diadu. Untuk mengetahui betina yang sudah matang gonad dapat diperhatikan perutnya. Selain lebih gemuk dari pada biasanya, pada perut betina sudah nampak dari luar bayangan telur-telurnya. Sedangkan pejantan umumnya akan selalu siap diawinkan asalkan umurnya sudah memenuhi syarat.

PERSIAPAN WADAH
Tempat untuk pemijahan ikan cupang sangatlah mudah, cupang bisa dipijahkan dalam akuarium dengan ukuran 20x20x20 cm, atau dalam bak yang disekat-sekat bahkan dapat dipijahkan dalam toples sekalipun. Wadah pemijahan dibersihkan dan diisi air, kemudian masukkan tanaman air untuk pemempatan telur-telur hasil dari pemijahan.

PEMASUKAN INDUK
 Setelah persiapan wadah selesai maka induk jantan dapat dimasukkan lebih dahulu agar dapat beradaptasi terlebih dahulu. Setelah itu masukkan induk betinanya, setelah beberapa lama induk jantan akan membuat sarang telur dengan mengeluarkan gelembung-gelembung.
PROSES PEMIJAHAN
Pemijahan ikan ini dapat diketahui dengan menyaksikan cupang-cupang tersebut saling berpelukan di tanaman air dan melayang sampai beberapa saat, kemudian akan keluar telur dan akan segera dibuahi oleh induk jantan. Telur-telur yang melayang di dalam air akan segera di tangkap oleh induk jantan untuk disusun di gelembung-gelembung busa yang telah dibuatnya.

PERAWATAN BENIH
Telur-telur akan menetas setelah 2-3 hari, setelah menetas induk ikan diangkat. Benih-benih ikan dapat diberi pakan setelah berumur 4 yaitun kutu air saring. Pergantian air dilakukan 2 hari dengan menyipon kotoran- kotoran yang ada di dasar wadah.

DAFTAR PUSTAKA
Daelami, D.  2002.  Agar Ikan Sehat.  Penebar Swadaya.  Jakarta
Hardjamulia, A. 1978. Budidaya. Departemen Pertanian Badan Pendidikan dan Penyuluhan Pertanian. SUPM Bogor
Kusumah, H. 1985. Penyakit dan Hama Ikan. Departemen Pertanian Badan
Susanto, Heru.  1992. Memelihara Cupang. Kanisius.Tanggerang

Hermanto dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Cupang Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

http://sikpas.blogspot.com/2015/09/mengenal-anatomi-morfologi-ikan-cupang.html