Minggu, 27 Mei 2018

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN JAMBAL SIAM


Penyakit merupakan salah satu faktor penyebab kegagalan usaha budidaya ikan jambal siam. Masalahnya, air yang digunakan sebagai media hidup ikan akan mengalami pengotoran, khususnya akibat metabolisme. Keadaan seperti inilah yang akan membuka peluang bagi tumbuh dan berkembangnya penyakit ikan.

HAMA
Hama biasanya berukuran lebih besar daripada ikan dan bersifat memangsa. Pada usaha budidaya ikan jambal siam, kemungkinan terjadinya serangan hama lebih banyak dialami pada usaha pendederan atau pembesaran sebab kedua usaha tersebut dilakukan dialam terbuka, seperti dijaring, kolam,atau keramba, sedangkan usaha pembenihan dilakukan diruang tertutup.
Jenis- jenis hama yang dapat menyerang ikan jambal siam adalah linsang (sero), ular air, dan burung. Cara pemberantasan yang paling efektif adalah secara mekanis atau membunuhnya langsung jika hama tersebut ditemukan dilokasi budidaya.

PENYAKIT 
Secara umum, penyakit yang menyerang ikan jambal siam digolongkan kedalam dua golongan. Pertama, penyakit non – infeksi, yaitu penyakit yang timbul akibat adanya gangguan faktor yang bukan fatogen. Penyakit ini tidak menular. Kedua, penyakit akibat infeksi yang timbul karena gangguan organisme patogen.
A.    Penyakit non - infeksi
Keracunan dan kekurangan gizi adalah contoh penyakit non – infeksi yang dapat ditemukan pada budidaya ikan jambal siam. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ikan jambal siam keracunan, yaitu pemberian pakan yang kualitasnya kurang baik atau terjadinya pencemaran air media budidaya akibat tumpukan bahan organik atau sampah yang membusuk. Kekurangan gizi umumnya disebabkan pemberian pakan tambahan yang kurang bermutu.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan jika ikan jambal siam keracunan adalah dengan memberikan pakan yang sesuai dengan anjuran. Juga lingkungan budidaya harus tetap dijaga kebersihannya. Sementara itu, agar ikan jambal siam  tidak  kekurangan  gizi,  pakan harus diberikan dalam jumlah cukup serta berkandungan protein tinggi dan dilengkapi dengan vitamin dan mineral.


B.    Penyakit Akibat Infeksi

PENYAKIT
GEJALA
PENGOBATAN KIMIAWI
PENGOBATAN ALAMI
White Spot / bintik putih
adanya bintik – bintik putih dibagian – bagian tubuh seperti di lapisan lendir kulit, sirip, dan lapisan insang.

Dengan menggunakan formalin yang mengan dung Malachite Green Oxalate sebanyak 4 gram/liter air dan kemudian direndam selama 12 – 24 jam.
Perendaman dengan menggunakan daun sambiloto, Dosis yang digunakan yaitu 10 lembar/10 lt air selama 7 hari.

Aeromonas sp danPseudomonas sp
Pendarahan pada bagian perut, dada,dan pangkal sirip
perendaman yang menggunakan larutan PK (kalium Pemanganat) sebanyak 10 – 2- ppm selama 30 – 60 menit.
menggunakan ekstrak rimpang kunyit.




DAFTAR PUSTAKA

Daelani, Deden, Agar Ikan Sehat, Jakarta: Penebar Swadaya. 2001.
Harmanto, Ning, Menggempur Penyakit Hewan Kesayangan Dengan Mahkota Dewa,  Jakarta, Penebar Swadaya.  2004
Ikan Patin Jambal Andalan Indonesia” dalam warta   Penelitian dan Pengembangan Pertanian,Volume 22  No.3 Tahun 2000
Nuraeni,Neni,Kegiatan Produksi Benih Patin (Pangasius Hypophthalmus) di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Air tawar Program Diploma III Manajemen
            Bisnis Perikanan, Institut Pertanian Bogor, 2001
Susanto Heru dan Khairul Amri, Budidaya Ikan Patin,Jakarta : Penebar Swadaya,1997

Supriatna R.O. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Jambal Siam Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Sabtu, 26 Mei 2018

POTENSI PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN JAMBAL SIAM


Klasifikasi Ikan Jambal Siam
Klasifikasi ikan jambal siam menurut saanin (1984) adalah sebagai berikut :
Ordo                     : Ostariophysi
Sub Ordo              : Siluroidea
Famili                   : Pangasidae
Genus                   : Pangasius
Spesies                 : Pangasius hypophthalmus sauvage
NamaInggris        : Catfish
NamaLokal           : Jambal siam dan Lele Bangkok


Morfologi
Ikan ini mempunyai ciri-ciri berbadan pipih dan memanjang, mulut subterminal dengan 4 kumis, sirip punggung mempunyai duri yang bergerigi, bersirif tambahan . terdapat garis lengkung mulai dari kepala sampai pangkal ekor. Sirip ekor bercagak dengan tepi berwarna putih. Warna badan kelabu kehitaman, sirip anal putih dengan garis hitam ditengah.

Pembesaran
            Kolam yang digunakan untuk pembesaran ikan jambal siam dikeringkan 3 – 5 hari sampai tanah dasar retak – retak. Maksud pengeringan adalah untuk membunuh bibit penyakit yang ada dikolam tersebut,serta untuk memudahkan pekerjaan pemupukan, perbaikan pematang yang bocor, dan pengolahan tanah dasar kolam.
            Untuk menumbuhkan pakan alami berupa plankton yang dibutuhkan ikan jambal siam saat ditebarkan, kolam harus dipupuk dengan menggunakan pupuk kandang. Jenis pupuk kandang serta dosis yang digunakan untuk kolam pembesaran yaitu sama dengan kolam pendederan.
            Selanjutnya kolam diisi air secara bertahap. Pada hari pertama ketinggian air 20 cm selanjutnya ditambah hingga mencapai ketinggian minimal 100 cm. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberi kesempatan agar pupuk dapat bereaksi dengan sempurna, hingga plankton dapat tumbuh sesuai dengan yang diharapkan.
            Penebaran benih baru dapat dilakukan setelah persiapan kolam dilakukan dasn plankton dipastikan telah tumbuh. Penebaran benih dil;akukan secara hati – hati dengan cara aklimatisasi suhu air di wadah pengangkutan dengan kolam pembesaran. Jumlah benih jambl siam yang ditebarkan sebanyak 5 ekor/m dengan ukuran 5 – 8 cm per ekor.

DAFTAR PUSTAKA
Daelani, Deden, Agar Ikan Sehat, Jakarta: Penebar Swadaya. 2001.
Harmanto, Ning, Menggempur Penyakit Hewan Kesayangan Dengan Mahkota Dewa,  Jakarta, Penebar Swadaya.  2004
Ikan Patin Jambal Andalan Indonesia” dalam warta   Penelitian dan Pengembangan Pertanian,Volume 22  No.3 Tahun 2000
Nuraeni,Neni,Kegiatan Produksi Benih Patin (Pangasius Hypophthalmus) di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Air tawar Program Diploma III Manajemen
            Bisnis Perikanan, Institut Pertanian Bogor, 2001
Susanto Heru dan Khairul Amri, Budidaya Ikan Patin,Jakarta : Penebar Swadaya,1997

Jumat, 25 Mei 2018

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN MAS


Dalam usaha pemeliharaan ikan, hama dan penyakit merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan kerugian dan kematian bagi ikan yang dipelihara. Umumnya penyakit ikan timbul karena kondisi lingkungan kolam yang buruk. Keadaan ini dapat terjadi karena persiapan dan perawatan kolam yang kurang baik. Selain itu tingginya kadar bahan organik dan anorganik serta banyaknya sisa pakan yang yang tidak habis dimakan oleh ikan sehingga mengakibatkan pembusukan didasar kolam.

Adapun penyakit ikan mas yang sering menyerang pada umumnya gejala dan cara pengobatannya adalah sebagai berikut :
1.    white spot (bintik putih)
a.    gejala : pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) terdapat bintik-bintik putih, pada infeksi berat terdapat lapisan putih yang jelas, megosok-gosokan badannya pada benda yang ada disekitarnya.
pengobatan kimia : direndam dalam larutan methylene blue 1% (1 gram/100 cc air) larutan ini diambil 2-4 cc kedalam 4 liter air selama 24 jam dan direndam dalam garam dapur NaCl selama 10 menit dengan dosis 1-3 gram/100 cc air.
pengobatan alami : direndam dalam ekstrak sambiloto atau ektrak pare.
2.    bengkak insang dan badan (myxosporesis)
a.    gejala : bagian punggung terjadi pendarahan tutup insang terbuka dan terdapat titik merah.
b.    pengobatan kimia : pengeringan total lalu tabur kapur tohor 200 gram/m², biarkan selama 1-2 minggu.
c.    pengobatan alami : dilakukan perendaman dalam ekstrak daun sirih
3.    cacing insang, sirip dan badan (dactypogyrus dan girodactylogyrus)
a.    gejala : ikan tampak kurus, warna kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok, ikan sering mengosok-gosokan badannya ke benda-benda yang keras.
b.    pengobatan kimia : direndam dalam larutan formalin dengan dosis 250 gram/m³ selama 15 menit, dan direndam dalam larutan methylene blue 3 gram/m³ selama 24 jam.
c.    pengobatan alami : rendam selama 1 minggu dalam larutan daun miana dengan dosis 50 lembar/100 liter air.
4.  argulasis (kutu air)
a.    gejala : benih dan induk menjadi kurus karena dihisap darahnya, pada kulit insang terdapat bercak merah.
d.    pengobatan kimia : direndam dalam garam dapur dengan dosis 20 gram/ liter air selama 15 menit dan direndamdalam larutan PK 10 ppm (10 ml/m³) selama 30 menit.
e.    pengobatan alami : direndam dalam larutan ekstrak kunyit selama 1 minggu dengan dosis 1 gram/L air
5.jamur (saprolegniasis)
a.    gejala : menyerang kepala, tutup insang, sirip dan lain sebagainya, tubuh ikan seperti kapas, telur ikan mas seperti berbenang halus seperti kapas.
b.    pengobatan kimia : direndam dalam cairan malactile gren oxalat (MGO) dosis 3 gram/m³ selama 30 menit apabila telur yang tersaerang direndam dalam larutan MGO 2-3 gram/m³ selama 1 jam.
c.    pengobatan alami : rendam dalam larutan ekstrak kunyit

6.  gatal (trichodina)
·         gejala : suka menggosok-goskan badan pada sisi kolam, bak atau aquarium. Gerakan lamban
·         pengobatan kimia : rendam selama 15 menit dalam larutan formalin 150-200 ppm
·         pengobatan alami : ektrak kunyit dengan dosis 2-4 gram/50 liter air selama 1 minggu
7. bakteri psedomonas flurescens
a.    gejala :  pendarahan dan bobok pada kulit, sirirp ekor terkikis
b.    pengobatan kimia : pemberian pakan yang dcampur oxytetracycline 25-30 mg/kg ikan atau sulafa merazine 200 mg/kg ikan selama 7 haru berturut-turut.
c.    pengobatan alami : rendam dalam ekstrak daun miana 10 lembar/100 liter airselama 1 minggu
8.    bakteri aeromonas punctata
a.    gejala : warna  badan suram, tidak cerah, kulit kesat dan melepuh, cara bernapas megap-megap, kantong empedu gembung, pendarahan dalam organ hati dan ginjal
b.    pengobatan kimia :penyuntikan chloramphenicol 10-15 mg/kg ikan atau streptomycin 80-100 mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.
c.    pengobatan alami : pakan dicampur dengan parut kunyit dengan dosis 4-5 gram/kg pakan berikan selama 7 hari berturut-turut.

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto,E dan Evi Liviawati” Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan”. Kanasius. Yogyakarta 2000.
Daelami, Deden A.S ” Agar Ikan Sehat”. Penebar Swadaya. Jakarta 2001.
Lingga, P dan Heru Susanto” Ikan Hias Air Tawar”. Penebar Swadaya. Jakarta 1989.
Wijayakusuma, Hembing. H.M, Setiawan Dalimarta dan A.S. Wrian” Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia”. Pustaka Kartini. Jakarta.
www.kkp.go.id. ” Penyakit Ikan”. 2005.
www.iptek.net.id.” Budidaya ikan mas” 2005.

Selasa, 22 Mei 2018

PEMBENIHAN IKAN GURAME


Gurame merupakan salah satu komoditas perikanan tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak dibudidayakan oleh para pembudidaya. Keunggulan ikan gurame dikalngan para pembudidaya gurame adalah ikan ini dapat berbiak secra alami, mudah dipelihara karena bersifat pemakan segalanya, dan dapat hidup di air tergenang.
Permintaan ikan gurame dari tahun ke tahunnya terus meningkkat baik dalam bentuk benih maupun dalam bentuk ukuran konsumsi. Sebagai contoh kecil, pada tahun 2001 kebutuhan benih gurame umur 12 hari di Tasikmalaya mencapai 500.000 – 1.000.000 ekor/bulan (Khairuman, 2003).

Dengan melihat data di atas, maka untuk meningkatkan produksi ikan gurame agar dapat memenuhi permintaan yang terus meningkat, maka yang harus diperhatikan salah satunya adalah mengenai kesehatan ikan, karena salah satu penghambat dalam proses peningkatan produksi adalah hama dan penyakit, bahkan ada pendapat bahwa apabila ikan sehat maka produksi akan meningkat.

Klasifikasi
Dalam daftar klasifikasi, Gurame termasuk dalam bansa Labirinthici dan suku Anabantidae. Klasifikasi Gurame secra lengkap adalah sebagai berikut :
à   Filum         : Chordata
à   Subfilum     : Vertebrata
à   Kelas          : Pisces
à   Ordo          : Labyrinthici
à   Famili         : Anabantidae
à   Genus        : Osphronemus
à   Spesies      : Osphronemus gouramy, Lac

Morfologi
Gurame mempunyai bentuk badan agak panjang, pipih, dan tertutup sisik yang berukuran  besar, terlihat kasar, serta kuat. Punggungnya tinggi dan mempunyai sirip perut dengan jari-jari yag sudah berubah menjadi alat peraba.
Bagian kepala Gurame ujda berbentuk lancip, dan akan menjadi tumpul bila sudah besar.Ikan Gurame memiliki mulut yang kecil, dengan bibir bawah menonjol sedikt dibandingkan bibir atas dan dapat disembulkan.
Badan Gurame pada umumnya berwarna biru kehitaman dan bagian perut berwarna putih. Jari-jari pertama sirip erut merupakan benang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba. Ujung sirip punggung dan sirip dubur dapat mencapai pangkal ekor. Sirip ekor berbentuk busur, pada dasar sirip dada pada Gurame betina terdapat tanda berupa sebuah lingkaran hitam. 

Penyebaran
Ikan gurame merupakan ikan asli perairan Indonesia. Meskipun demikian, ada juga literature yang menyebutkan bahawa Gurame merup[akn ikan asli perairan Asia Tenggara. Hal ini dengan ditemukannya ikan ini selain di Indonesia, yakni di perairan Thailand dan Malayasia.
Dari literature disebutkan bahwa tahun 1808 ikan ini sudah ditulis orang. Dalam  itu, ikan Gurame berasal dari kepulauan sunda besar, selanjutnya disebarkan ke pulau lainnya, yakni ke Tornado di sulawesi utara, ke Madurdan ke Filipina yaitu sekitar tahun 1916 bahkan gurame juga telah menyebar ke arah utara seperti sri Langka, India, dan Cina.
Di Indonesia, ikan Gurame banyak ditemukan di pulau sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Di alamnya, ikan Gurame merujpakan penghuni asli perairan yang tenang, seperti rawa, danau, situ, atau perairan tergenang lainnya.

Pemilihan Induk
Untuk menghasilkan benih yang berkualitas, induk Gurame harus berasal dari populasi Gurame yang sehat, tidak cacat, bergerak aktif atau lincah. Untuk membedakan induk Gurame jantan dan betina, dapat dikenali dari cirri-ciri fisik seperti berikut ini :
CIRI-CIRI FISIK
JANTAN
BETINA
Ukuran tubuh
Dahi
Dagu
Tutup insang
Dasar sirip dada
Bentuk perut
Ujung sirip ekor
Besar
Menonjol
Maju
Kekuningan
Agak terang
Kempis
Rata
Kecil
Rata
Normal (Rata)
Putih cokelat
Lebih gelap
Berisi
Membulat

Persiapan Kolam Pemijahan
Sebelum digunakn, kolam pemijahan sebaiknya sebaiknya dipersiapkan terlebih dulu sebaik mungkin. Persiapankolam meliputi :
1.1.1.  Pengeringan Kolam
Pengeringan kolam pemijahan dilakukan selama 2-3 hari. Tujuan dari pengeringan kolam adalah untuk membunuh hama dan sumber penyakit serta menghilangkan nitrit yang berada di dasar kolam serta untuk memberikan suasana baru yaitu tanah yang sudah dikeringkan akan menimbulkan bau khas pada saat diisi air yang akan merangsang Gurame untuk memijah. Setelah kolam dikeringkan, kolam tersebut siap diisi air denga kualitasyang baik yaitu tidak berwarna, jernih, tidak berwarna dan terbebas dari hama dan bibit penyakit.
1.1.2.  Pemasanngan Sarang
Kolampemijahan yang telah terisi air, kemudian dibiarkan minimum 4 hari. Selama itu, dilakukan pemasangan kerangka sarang yang berupa sosog sebagai tempat untuk meletakan bahan pembentuk sarang. Kerangka sarang diletakan di tengah dan di pingir-pinggir kolam. Sedangkan bahan pembentuk sarang yang berupa ijuk diletakan di kolam sebelum induk dimasukan ke kolam.

Bahang sarang diletakan di tengah atau di pinggir-pinggir kolam. Semakin banyak bahan pembentuk sarang maka akan semakin baik.
Penebaran Induk
Induk Gurame yang telah matang gonad dan siap untuk memijah dapat segera dipindahkan ke kolam pemijahan. Pemindahan induk harus dilakukan secar hati-hatiagar induk tidak stress.
Penebaran induk sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Perbandingan antara induk jantan dan betina yang akan dipijahkan yaitu 1:3 (satu jantan dan tiga betina.

Pemijahan
Seminggu setelah dilepaskan ke kolam pemijahan, induk jantan sudah selesai menyiapkan satu sarang. Setelah itu induk jantan akan mondar-mandir yang bertujuan untuk menarik perhatian induk betina.
Proses pemijahan ini terjadi di depan mulut sarang dan umumnya terjadi sekitar dua hari setelah sarang dibuat. Sementara itu, proses pembuahan akan berlangsung di dalam sarang. Selam proses pemijahan ini tercium bau amis diserati munculnya bintik-bintik dipermukaan air sekitar sarang. Hal ini menunjukan bahwa proses pemijahan telah berhasil.

Penetasan Telur
Setelah proses pemijahan berlangsung telur ikan gurame akan menetas sekitar 30-36 jam. Penetasn telur ikan gurame bisa dilakukan di akuarium atau bak, di kolam pemijahan, pemijahan di sawah dan lain-lain.

Pemeliharaan Benih
Benih Gurame dapat dielihara di aquarium, bak kayu yang dilapisi plastic, bak tembok atau ditebar langsung ke kolam pendederan. Pemeliharaan benih pada wadah terkomtrol harus dilengkapi dengan aerasi untuk suplai oksigen dan terhindar kontak langsung dengan hujan.
Pakan awal berupa cacing rambut, Daphnia sp, Moina sp, atau sumber protein lainnya. Bahan-bahan nabati dapat mulai diberikan setelah larva berumur 36-40 hari. Sedangkan pakan buatan (pelet) dapat diberikan dengan menyesuaikan bukaan mulutnya.
Lama pemeliharaan dan benih yang dihasilkan antara lain : benih berumur 40 hari dapat mencapai ukuran 1-2 cm (setara ukuran kuku). Benih berumur 80 hari dapat mencapai ukuran 2-4 cm (setara ukuran jempol). Benih berumur 120 hari dapat mencapai ukuran 4-6 cm (setar ukuran silet). Dan benih berumur 16 hari dapt mencapi ukuran 6-8 cm (setar ukuran korek api di masyarakat).   

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan A. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Gurame Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Harmanto, Ning. Menggempur Penyakit Hewan Kesayangan dengan Mahkota Dewa, Jakarta : Penebar Swadaya, 2004.
Jangkaru, Z. Memacu Pertumbuhan Gurame, Jakarta : Penebar Swadaya, 2003.
Khairuman dan Khairul Amri. Pembenihan Dan Pembesaran Gurame Secar Intensif, Jakarta : Agromedia Pustaka, 2003.

Sendjaja, Julius Tirta. Usaha Pembenihan Gurame, Jakarta : Penerbit Swadaya,2002.