Senin, 05 Agustus 2019

IKAN BETUTU





 Daerah Asal dan Penyebaran Ikan Betutu
Ikan betutu diduga ikan asli Indonesia yang berasal dari pulau Kalimantan. Namun, sementara orang ada juga yang berpendapat bahwa ikan betutu berasal dari Sumatra karena sejak dulu sudah ada di sana, bahkan menjadi maskot Kabupaten Talang Betutu. Mengingat nama betutu menjadi nama tunggal di pulau tersebut, maka ikan betutu diduga berasal dari Sumatra. Sedangkan di Kalimantan ikan ini dinamai ikan bakut atau ikan bakukut yang berarti diam. Di kota Pontianak, ikan ini bemama ikan bodoh atau ikan goblog karena sifatnya yang selalu diam. Ikan ini hanya bergerak bila lapar dan bila ada mangsa yang kebetulan lewat di depannya. Bila sudah kenyang, ikan ini akan diam saja meskipun melihat mangsa yang sudah dikuasai direbut oleh ikan lain.
Ikan betutu saat ini sudah banyak dijumpai di pulau Jawa, antara lain di di sungai Ciliwung, Citarum, waduk Cirata, waduk Gajah Mungkur, dan di tempat-tempat lainnya. Penyebaran ikan betutu di pulau Jawa diduga karena adanya usaha budi daya di daerah tersebut yang kemudian terlepas ke suatu perairan dan masuk ke sungai-sungai kemudian berkembang biak secara alami. Menurut Axelrod, daerah penyebaran ikan betutu meliputi daerah Malaysia, Thailand, Vietnam, Campuchea, Burma, Australia Utara, Filipina, dan Cina Selatan.


B.  Taksonomi dan Morfologi
Ikan betutu mempunyai kemiripan dengan ikan gabus (Jw : kutuk), baik bentuk maupun sifatnya. Oleh karena itu, sementara ahli menduga bahwa ikan betutu masuk dalam golongan Goboidae (satu famili dengan ikan gabus). Namun, Axelrod memasukkan ikan betutu ke dalam golongan Percormorphoidei. Adapun sistematika selengkapnya menurut Axelrod (1951) adalah sebagai berikut :
  Phylum                          : Chordata
  Sub-Phylum                    : Craniata
  Super-Classis                  : Gnatostomata
  Classis                           : Osteichthyes
  Super-Ordo                    : Telestei
  Ordo                             : Percomorphodei
  Sub-Ordo                       : Gobiformes
  Familia                          : eleotridae
  Genus                           : Oxyeleotris
  Species                         : Oxyeleotris marmorata. Blkr.



Tanda-tanda atau ciri-ciri morfologi spesifik yang dimiliki oleh ikan betutu (Oxyeleotris marmorata. Bikr) adalah sebagai berikut :
1.     bentuk badan bulat panjang seperti torpedo
2.     badan bagian depan bundar dan di bagian belakang agak pipih
3.     kepala rendah, mata besar yang dapat bergerak, dan mulut lebar
4.     perut luas dan sirip punggung terdiri atas dua bagian
5.     sisik sangat kecil-kecil, halus, dan lembut sehingga tampak hampir tidak bersisik
6.     warna badan kekuning-kuningan dengan bercak-bercak hitam keabu-abuan seperti di batik;
7.     bagian ventral berwarna putih
8.     panjang maksimum 50 cm dan dapat mencapai berat 7 kg/ekor.

C.  Jenis-Jenis Ikan Betutu
Sampai saat ini ditemukan 7 (tujuh) jenis ikan betutu dan 2 (dua) jenis lagi yang bukan dari spesies Oxyeleotris marmorata. Bikr., tetapi di pasaran sering disebut ikan betutu. Adapun jenis-jenis ikan betutu selengkapnya adalah Oxyeleotris marmorata. Bikr. (yang banyak dicari dan harganya mahal), Oxyeleotris urophthalmus. Bikr, Oxyeleotris urophthalmoides. Bikr, Oxyeleotris sineolatus. Bikr., Oxyeleotris heterodon. Seen, Oxyeleotris fimbriatus. Weber, dan Oxyeleotris ereuntris.E.
Sedangkan ikan betutu yang bukan dari genus Oxyeleotris tetapi sering disebut ikan betutu adalah Belobranchus. Sp. (jenis ini banyak terdapat di Thailand dan Cina) dan Neogobus melanostomus. Pall. (jenis ini banyak dijumpai di Papua hingga Australia Utara).


D.  Daur Hidup dan Pembiakan
Ikan betutu yang hidup di alam bebas memiliki periode pemijahan yang relatif pendek dengan frekuensi lebih dari satu kali dalam setahun, yaitu pada awal dan pada akhir musim hujan. Ikan betutu melakukan pemijahan tidak sendiri-sendiri, tetapi secara berkelompok. Ikan betutu jantan dan ikan betutu betina yang sudah matang kelamin (matang gonad) bersama-sama bermigrasi ke daerah-daerah yang banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan air yang berdaun atau yang berbatang halus sebagai persiapan untuk meletakkan telur-telurnya. Di tempat-tempat tersebut, ikan betutu melakukan pemijahan dan bertelur.
Telur ikan betutu umumnya menempelkan telur-telumya pada substrat berupa tumbuhan air. Namun, ikan betutu kadang-kadang juga menempelkan telur-telurnya pada benda-benda lain yang berada di perairan, misalnya kayu, bebatuan, dan lain-lain. Pada suhu air 24°C, telur-telur ikan betutu akan menetas dalam waktu 7 hari, pada suhu air 26,5°C akan menetas dalam waktu 5 hari, dan pada suhu air 28°C telur tadi akan menetas dalam waktu 2 - 3 hari.
Tan dan Lam pada tahun 1973 mengadakan uji pemijahan ikan betutu dengan sistem hipofysasi dan didapatkan hasil telur yang dibuahi (dalam akuarium) dapat menetas 90 % pada suhu 26°C - 28°C. Ikan betutu melakukan pemijahan secara monogami, yakni satu jantan dengan satu betina.
Menurut Tavarutmaneegul dan Lin (1988), ikan betutu akan produktif pada saat ia mencapai ukuran 250 - 500 g/ekor dengan fekunditas 24.000 butir telur. Widiyati dan kawan-kawannya (1992) melakukan uji lapang pemijahan ikan betutu. Uji coba tersebut memperoleh hasil bahwa ikan betutu betina ukuran 400 g yang diberi pakan buatan dengan kandungan protein 47 % selama 3 bulan akan memiliki fekunditas 40.000 butir telur.
Ikan betutu muda akan dibiarkan induknya untuk mencari makan sendiri. Anak-anak ikan betutu ini akan dewasa pada umur ± 20 - 24 bulan. Setelah dewasa, ikan-ikan betutu ini akan mencari pasangannya untuk mengadakan pemijahan.



E.  Habitat dan Tingkah Laku Ikan Betutu
Ikan betutu di alam aslinya hidup di air tawar, seperti di sungai-sungai, di rawa-rawa, di telaga-telaga, di danau-danau, dan di waduk-waduk. Ikan-ikan betutu yang masih kecil sampai ukuran ± 100 g lebih senang tinggal di perairan yang dangkal, sedangkan yang sudah besar lebih suka tinggal di daerah yang arusnya tidak terlalu deras. Ikan betutu senang tinggal di perairan yang banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), kayu apu (Pistia.Sp), ganggeng (Hydrilla Sp.), kangkung (Ipomoea. Sp.), dan lain-lain.
Di alam bebas, ikan betutu juga banyak dijumpai di perairan yang memiliki derajat kesamaan (pH) air yang agak rendah (5,5 – 6,5). meskipun ia tidak menolak tinggal di air netral dengan pH 7 – 7,5 Ikan betutu dapat hidup dengan baik pada temperatur air berkisarantara 19°C - 29°C, bahkan ia bisa beradaptasi dengan baik sampai pada suhu air 30°C. Berbeda dengan ikan-ikan lain, ikan betutu ini sangat tahan terhadap kadar. Amoniak dan kadar CO2 yang cukup tinggi. Hal ini sangat menguntungkan dalam usaha budidayanya, terutama dalam usaha pembesaran.
Ikan betutu termasuk ikan labirin sehingga ia dapat menyerap O2 langsung dari udara. Dengan demikian, ikan betutu sangat tahan terhadap kondisi air yang kurang baik (kurang oksigen) sehingga sangat menguntungkan dalam hal transportasi/pengiriman ke tempat yangjauh. Ditinjau dari aktivitasnya, ikan betutu golongan ikan nocturnal. Oleh karena itu, ikan betutu aktif mencari makan pada malam hari. Di waktu malam, ikan betutu sangat aktif dan sangat agresifdan banyak dijumpai di dasar-dasar perairan dan sangat jarang dijumpai berenang di permukaan air, kecuali pada saat menderita sakit. Ikan betutu sangat menyukai tempat-tempat yang ada lubang-lubangnya entah berupa timbunan batu atau lubang kayu atau lubang lain seperti potongan plpa pralon, tempayan, atau kaleng yang tenggelam.
Ikan betutu termasuk ikan yang sangat jinak dan jarang bergerak sehingga mudah di tangkap. Walaupun demikian, ikan betutu juga mampu bergerak cepat, terutama pada saat lapar dan melihat mangsa lewat didepannya. Ikan betutu yang lapar akan melesat dengan cepat dengan mulut terbuka dan menyergap mangsanya. Ikan betutujuga sering menjunjukkan kemampuan yang istimewa, yaitu bergerak dengan sangat cepat dan berhenti dengan tiba-tiba sehingga sulit diikuti dengan mata.

F.  Kebiasaan Makan
Ikan betutu sangat menyukai jenis pakan hidup (carnivora) dan dapat memburu mangsanya (predator) jika keadaan memaksanya. Dalam mencari pakan, ikan betutu tidak peduli terhadap buruannya. Jenisnya sendiri yang masih kecil, bahkan anaknya sendiri akan dilahap jika dalam keadaan lapar (kanibal).
Gambra 3.  Pakan alami ikan betutu

Makanan ikan betutu terdiri atas ikan-ikan kecil, udang liar tawar, remis, cacing dan organisme lain yang lebih kecil yang dapat dimangsa. Ikan betutu juga tidak menolakjika diberi pakan yang terdiri atas ikan mati atau bangkai hewan lain. Namunjika masih adajenis pakan hidup dalamjumlah banyak, ikan betutu akan memilih pakan yang hidup tersebut. Ikan betutu yang belum sangat lapar tidak akan keluar untuk memburu mangsanya. Jika mangsa tersebut sudah didahului oleh ikan lain, ikan betutu yang belum lapar tidak akan merebutnya atau meminta belas kasihan untuk mendapatkan sisa makanan. Sisa-sisa makanan dari ikan lain pun tidak pemah diambilnya.
Makanan utama larva ikan betutu adalah plankton seperti rotifera, sufosutoria, dan mikro-plankton lain. Setelah berumur beberapa hari dan sudah lebih besar, anak-anak ikan betutu akan berganti jenis pakan, yaitu berupa zooplankton yang lebih besar seperti Moina.sp., Dapnia. Sp., dan Bosmina Sp. Pada saat ia lebih besar lagi (3 - 7 cm), anak-anak ikan betutu akan Memangsa ArtemiaSp., larva Chironomit, cacing sutera (Tubifex), dan lain-lain. Rupanya, dalam hal pakan, ikan betutu menyesuaikan diri dengan lebar bukaan mulutnya. Pada waktu sudah mencapai ukuran fingerling (di atas 9 cm), ikan betutu sudah mulai memangsa anak-anak ikan yang lebih kecil ataupun cacahan isi perut ikan.


G.  Pertumbuhan Ikan Betutu
Seperti yang telah dikemukakan di depan bahwa ikan betutu memiliki pertumbuhan yang sangat lambat. Untuk mencapai ukuran konsumsi, ikan betutu membutuhkan waktu sekitar 24 - 30 bulan. Oleh karena itu, pembudidayaan ikan betutu disarankan dibagi 3 tahap, yaitu pembenihan sampai ukuran fingerling, kemudian dijual ke pengusaha pendederan sampai ukuran 80 - 120 g. Selanjutnya, benih ikan tersebut dijual ke pengusaha pembesaran. Pengusaha pembesaran akan memelihara dan membesarkan benih ikan ukuran 100 g sampai ukuran konsumsi (± 400 g ke atas). Lamanya pertumbuhan ikan betutu sebenamya sama dengan ikan gurami, yakni untuk mencapai ukuran konsumsi memakan waktu minimal 18 - 24 bulan.

Referensi:
Mulyono D., 1999.  Budi Daya Ikan Betutu. Penerbit Kanisius, Jakarta.

Jumat, 02 Agustus 2019

BUDIDAYA TAMBAK





Budidaya tambak hingga sekarang terhitung sebagai suatu usaha yang dapat memberikan keuntungan yang luar biasa. Kecenderungan kearah ini memang beralasan karena terbukti pada lahan-lahan yang baru dibuka ternyata dapat menghasilkan produksi, baik pada tingkat penguasaan teknologi petani yang masih rendah hingga sedang, seperti halnya dikabupaten luwu utara, produksi yang dicapai pada tahun 1998 sebesar 1.641 ton, sekalipun produksi tersebut masih rrendah jika dibandingkan dengan potensi tambak sebesar 11.090 ha (anonym, 2000). Kondisi yang terlihat diawal masa usaha tersebut pada umumnya diikuti dengan ekspansi lahan atau peningkatan jumlah input yang selalu berakhir dengan penurunan produktivitas yang berulang-ulang dengan pemecahan masalah jangka pendek.
Pada awal tahun 90an kematian udang dipetak pembesaran terjadi tanpa penyebab yang jelas dan nanti pada pertengahan tahun 90an penyebab utama kematian disepakati sebagai akibat infeksi virus. Secara alami diketahui bahwa laju infeksi penyakit virus ini disebabkan oleh diabaikannya faktor-faktor utama sanitasi lingkungan dan sebagai akibat kemunduran kualitas lingkungan internal dan eksternal.
Tata letak tambak, jenis tanah setempat, kesalahan desain, dan teknologi pengelolaannya adalah faktor-faktor yang berperan terhadap penurunannya produktivitas tambak seperti ukuran udang yang cenderung sulit berkembang serta respon tambak yang negative terhadap pertumbuhan fitoplankton. Dilain pihak terdapat kesalah pahaman dalam memandang organisme lain selain udang windu seperti ikan dan tumbuhan setempat yang selalu disarankan untuk dieliminasi. Pada kenyatannya masing-masing komponen biota tersebut akhirnya digunakan kembali setelah terbukti berperan dalam memutus rantai penyakit, pemasokan prabiotika serta zat-zat bioaktif serta mineralisasi dampak toksik dari berbagai polutan buatan manusia.
Report this ad
Dalam waktu dekat hampir semua komoditas perdagangan dunia dan lokal seperti udang akan dikenakan persyaratan ramah lingkungan. Persyaratan ini ternyata tetap harus dilaksanakan walaupun tanpa permintaan dunia internasional karena telah terbukti berpengaruh positif pada hasil budidaya udang/ikan diberbagai tempat di Indonesia.
Persyaratan Lokasi
Berdasarkan kebiasaan hidup, tingkah laku dan sifat udang atau ikan itu sendiri maka dalam memilih lokasi tambak baik dalam rangka membuat tambak baru maupun dalam perbaikan tambak yang sudah ada sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut :
  1. Memiliki sumber air yang cukup, baik air laut maupun air tawar dan tersedia sepanjang tahun atau setidaknya 10 bulan dalam setahun tetapi bukan daerah banjir
  2. Memiliki saluran saluran air yang lancar baik untuk pengisian waktu pasang maupun membuang air waktu surut dan sumber air serta lingkungan bebas dari pencemaran.
  3. Kadar garam air berkisar 10-25 ppm dan derajat keasaman (pH) berkisar 7-8.5
  4. Tanah dasar tambak terdiri dari lumpur berpasir dengan ketentuan kandungan pasirnya tidak lebih dari 20%.
Desain Tambak
Desain suatu petakan tambak merupakan salah satu kunci utama keberhasilan budidaya. Hasil penelitian membuktikan bahwa kandungan berbagai polutan (mangrove). Kecenderungan positif seperti ini akan terus dikembangkan hingga diperoleh sebuah standar desain dan teknologi budidaya yang baru dan lebih ramah lingkungan.
Pada model ini dalam satu unit tambak terdapat lima petakan yaitu :  petak bio filter, petak steril air,  petak pengendali hama penyakit dan petak pembesaran, dengan perbandingan luas masing- masing petakan yaitu 5:5:5:10:75. jadi jika luas tambak satu hektar, maka luas petakan masing- masing 5are, 5are. 5 are, 10 are dan 75 are. Ukuran ini tergantung dari kondisi keadaan setempat. Pembuatan petakan-petakan ini dimaksudkan, selain unutk memudahkan pengelolaan juga diharapkan agar kualitas air dan lingkungan tetap terjaga, sehingga produksi tambak meningkat dan berkualitas. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam setiap petakan yaitu :
  1. Petak biofilter
  • Organisme : kerang bakau, tiram dan vegetasi bakau
  • Kerang bakau ukuran cangkang 4-5 cm dan kepadatan 6-8 ekor/m²
  • Tiram ukuran cangkang 5-7 cm dengan kepadatan 0.75 kg/m² (28 ekor/ m²), ditempatkan dalam rak bambu pada kedalaman 10 cm.
  1. Petak steril air
  • Penggunaan kaporit dengan dosis 2-5 ppm (5 ppm unutk air keruh dan 3 ppm unutk air jernih) dengan proses netralisasi ± 3 jam.
  • Penggunaan kaporit, pada kedalaman air satu meter 30-50 kg/ha, dan jika kedalaman air 60 cm sebesar 18-25 kg/ha.
  1. Petak pengendali hama penyakit
  • Menggunakan ikan- ikan, misalnya ikan bandeng, ikan kakap putih, dll
  • Luas petak ini yaitu 5-10% dari luas petakan seluruhnya.
Teknik Pemeliharaan
Tahap kegiatan persiapan tambak bervariasi sesuai dengan tingkat teknologi budidaya yang diterapkan maupun kondisi lahan yang digunakan. Secara umum tahapan-tahapan kegiatan budidaya tambak adalah :
  1. Persiapan Tambak
  • Pengeringan Dasar Tambak
Semua tingkat teknologi budidaya tambak menghendaki pengeringan tanah dasar yang sempurna, yang dapat dilakukan pada periode musim kemarau. Pengeringan ini dimaksudkan untuk mengurangi senyawa-senyawa asam sulfide dan senyawa beracun yang terjadi selama tambak terendam air, memungkinkan terjadinya pertukaran udara dalam tambak sehingga proses mineralisasi bahan organic yang diperlukan untuk pertumbuhan kelekap dapat berlangsung, serta unutk membasmi hama penyakit dan benih- benih ikan liar yang bersifat predator ataupun kompetitor.
Agar lebih mempermudah pelaksanaan pengeringan tambak dapat dilakukan pada saat air laut surut. Pengeringan tambak berlangsung selama 1-2 minggu, sampai keadaan tanah retak- retak, namun tidak terlalu kering atau berdebu.(gambar 1). Tambak yang terlalu kering kurang baik untuk pertumbuhan klekap. Jadi yang dimaksud dengan tidak terlalu kering adalah bila tanah dasar tambak diinjak, kaki masih melesak sedalam 10-20 cm. sebaliknya bila pengeringan tambak kurrang sempurna, kelekap yang tumbuh didasar tambak kurang kuat melekat dan mudah lepas dari substratnya. Hal ini akan menyebabkan kelekap mengapung kepermukaan air tambak dan membusuk, keadaan ini mencemari tambak. Untuk mengetahui tingkat pengeringan tersebut yaitu dengan cara mengukur ketinggian lekukan yang terjadi dalam tanah dasar yang retak- retak tersebut, apabila lapisan telah mencapai 1-2 cm, maka pengeringan sudah dianggap cukup.
  • Pengolahan Tanah Dasar Tambak
Pengolahan tanah dasar dilakukan menggunakan hand tractor atau dicangkul, dengan kedalaman tidak lebih dari 30 cm. hal ini dilakukan sehubungan dengan pengaruh unsur hara terhadap pertumbuhan plankton pada kedalaman tertentu, dan kemampuan unsur toksis berpengaruh terhadap kehidupan udang didasar tambak. Pengolahan tanah dasar dilakukn hanya pada tambak masam dan tambak yang sudah lama beroperasi, dan dilakukan pada musim tertentu, dimana unsur-unsur toksis dalam bongkahan tanah dapat teroksidasi dengan sempurna (musim kemarau). Setelah tanah dasar tambak ditraktor, kemudian dibalik dan Lumpur yang ada didalam caren harus diangkat sambil memperbaiki pematang. Selanjutnya direndam air (10–20) selama ± 7 hari, lalu dikeringkan kembali.
  1. Pengapuran
Pengapuran adalah upaya peningkatan produktivitas tambak, utamanya tambak masam yang bertujuan :
  • Memperbaiki struktur tanah yaitu meningkatkan daya sanggah (buffer) tanah dan air sehingga tidak terjadi perubahan kemasaman (pH) yang ekstrim.
  • Menetralisasi unsur toksis yang disebabkan oleh aluminium dan zat besi dengan ketersediaan kalsium dalam jumlah yang cukup, sehingga ketersediaan unsur hara seperti posfat akan bertambah.
  • Menstimulir aktivitas organisme tanah sehingga dapat menghambat organisme yang membahayakan kehidupan udang (desinfectan)
  • Dapat merangsang kegiatan jasad renik dalam tanah sehingga dapat meningkatkan penguraian bahan organic dan nitrogen dalam tanah.

Kamis, 01 Agustus 2019

BUDIDAYA PADA IKAN HIAS LOUHAN





Ikan louhan merupakan salah satu jenis ikan hias yang pertama kali muncul di Negara Malaysia pada tahun 1997. Istilah ikan louhan itu sendiri berasal dari kata “hua louhan” yang berarti “dewi pelindung”. Bagi masyarakat tertentu ikan louhan ini dipercaya sebagai pelindung bagi siapa saja yang memeliharanya. Kecantikan warna sisik dan keunikan bentuk dahinya membuat banyak orang yang menyukai ikan hias yang satu ini. Satu hal yang paling unik dan fenomenal dari ikan louhan ini adalah sisiknya yang terkadang terdapat motif berupa huruf latin/mandarin/angka yang unik. Tak heran motif-motif unik ini dijadikan dasar kepercayaan bahwa ikan louhan ini tak lain adalah ikan pembawa “hoki” bagi si pemiliknya.
Untuk memilih ikan hias louhan yang berkualitas baik adalah :
  • Sirip atas bawah dan ekor seimbang
  • Bintik hitam tegas dari pangkal ekor sampai insang
  • Lingkaran warna perak keemasan metalik melingkari bintik hitam
  • Tampak bintik mutiara hampir di seluruh badan
  • Warna dasar tubuh merah cerah dan kuning cerah
  • Sirip dan ekor merekah melebar dan utuh
  • Nongnong di kepala tampak proporsional
  • Mata merah satu lingkaran penuh.
Ikan Louhan merupakan jenis ikan yang agresif dan teritorial (mempertahankan daerah kekuasaannya), sehingga ikan ini acap kali berkelahi dengan ikan lain yang ditempatkan dalam satu wilayah dengannya. Meskipun demikian, louhan termasuk ikan yang mudah di ternakan. Untuk dapat melakukan pemijahan, diperlukan louhan betina berukuran minimal 10 cm dan louhan jantan yang lebih besar.
Perbedaan antara louhan jantan dan betina dapat dilihat dari kedekatan genetiknya. Untuk louhan keturunan Cichlasoma trimaculatum jika pada sirip punggungnya terdapat bintik hitam maka louhan tersebut berjenis kelamin betina. Apabila pembedaan secara fisik sulit dilakukan maka pembedaan jenis kelamin dapat dilakukan dengan cara yaitu mengamati organ kelamin louhan yang bersangkutan.
Memilih Induk yang Berkualitas
Pemilihan indukan yang akan diternakan sangat mempengaruhi kualitas anakan ikan jika indukan ikan louhan memiliki kualitas yang baik kemungkinan besar anakan ikan nantinya akan memiliki kualitas yang baik pula begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu kita perlu memilih indukan yang memiliki kualitas terbaik. Selain itu pilihlah jenis ikan louhan yang memiliki harga cukup mahal di pasaran agar kita mendapatkan keuntungan yang besar jika kita berniat menjual hasil ternak.
Pemijahan Ikan Louhan
Pertama yang perlu Andalakukan ketika Andaakan melakukan budidaya ikan louhan adalah pemijahan ikan louhan. Anda bisa menggunakan air sumur atau air PAM. Jika anda menggunakan air sumur sebaiknya endapkan terlebih dahulu selama 24 jam bila anda menggunakan air PAM senbaiknya anda netralkan terlebih dahulu air PAM tersebut seperti kadar PH dan kadar klorinnya. Kemudian untuk media pemijahan anda bisa menggunakan akuarium atau pun kolam khusus yang sudah disterilisasikan. Adapun peralatan yang perlu anda persiapkan untuk proses pemijahan antara lain : bak penampungan air, aerator, filter, alat penampung air, lampu UV, dan ornamen seperti bebatuan alami.
Setelah mendapatkan calon induk untuk di pijahkan letakkan kedua induk tersebut dalam satu akuarium yang telah diberi sekat pemisah dari kaca. Tujuannya agar mereka terbiasa satu sama lain. Ketika louhan betina telah menunjukkan tanda-tanda bertelur, lepaskan sekat pemisah. Setelah sekat pemisah dilepas, amati perilaku kedua louhan. Jika keduanya terus berkelahi segera pisahkan kedua louhan. Upaya penyatuan kedua louhan dapat dilakukan beberapa minggu kemudian atau dapat juga mengganti pasangannya.
Jika pemijahan berhasil amatilah tingkah laku kedua louhan jika kedua induk akur dan menjaga telurnya, biarkan mereka tetap bersatu. Jika kedua induk cenderung untuk berkelahi pisahkan induk jantan dari induk betina agar induk betina menjaga telur tersebut jika induk betina memakan telurnya lalu pisahkan induk tersebut dari telurnya.
Pengamatan Selama Masa Pemijahan
Anda bisa menebarkan seekor benih ikan louhan betina yang berukuran kurang lebih 10 cm dan seekor benih ikan louhan jantan yang berukuran lebih besar. Sebelum di lakukan pemijahan, letakan sekat yang memisahkan kedua benih ikan louhan tersebut agar keduanya terbiasa dan saling mengenal. Jika benih ikan louhan betina sudah menunjukan tanda-tanda akan bertelur, lepaskan sekat pemisah akuarium/kolam. Amati tingkah laku kedua benih ikan louhan tersebut selama beberapa hari. Tetap biarkan keduanya bersama-sama jika keduanya menjaga telur-telur sang indukan. Sebaliknya jika keduanya berkelahi sebaiknya segera pisahkan dan gantikan pasangan indukan agar proses pemijahan tetap berlangsung.
Ikan Louhan Mengeluarkan Telurnya
Setelah ikan louhan berbulan madu biasanya sekitar 1-2 hari kemudian dasar akuarium akan dipenuhi oleh telur ikan. Telur yang memiliki warna putih susu merupakan telur yang gagal dibuahi. Sedangkan telur yang memiliki warna bening dan terdapat bintik-bintik spot hitam merupakan telur yang berhasil dibuahi. Kedua induk akan berusaha menjaga telurnya dengan cara mengipas-ngipasi telurnya dengan sirip dengan tujuan memberikan sirkulasi udara pada telur. Pada tahap ini biarkan kedua ikan tetap di dalam satu akuarium berserta telurnya. Berikanlah makanan yang banyak karena ikan louhan akan memakan telurnya jika tidak ada makanan. Semua telur akan menetas sekitar 48 jam setelah telur dikeluarkan dari perut ikan louhan betina. Setelah telur-telur tersebut menetas, saatnya kita memisahkan anakan ikan louhan dengan induknya agar tidak terjadi suatu hal yang tidak kita inginkan.
Media Pemeliharaan Ikan Louhan
Ikan louhan termasuk jenis ikan yang mudah dipelihara tidak perlu menggunakan teknik-teknik pemeliharaan khusus untuk memelihara ikan louhan. Untuk media pemeliharan ikan louhan sebaiknya gunakan akuarium dengan panjang 4 kali dari panjang tubuh ikan louhan hal ini cukup penting untuk ruang gerak ikan louhan. Ikan louhan akan terpicu pertumbuhannya jika ruang geraknya luas. Kemudian sebaiknya letakan akuarium 80 cm di atas lantai agar ikan louhan tidak mudah stress.
Suhu dan pH Air Ikan Louhan
Akuarium juga sebaiknya dilengkapi dengan lampu UV untuk memicu pertumbuhan kilat warna pada tubuh ikan louhan. Lampu UV tidak harus dinyalakan sepanjang hari karena jika dinyalakan sepanjang hari ikan louhan akan terangsang untuk terus bergerak tanpa istirahat. Lalu tambahkan batu-batuan ke dalam akuarium agar mirip dengan habitat asli ikan louhan. Jangan lupa untuk selalu mengecek kualitas air pada akuarium tempat ikan louhan hidup. Perhatikan suhu air dan Ph air agar ikan louhan tetap nyaman. Suhu air yang tepat untuk ikan louhan yaitu sekitar 32-35 °C sedangkan skala pH yang baik untuk pertumbuhan ikan louhan yaitu bekisar 6,5-7,5.
Pakan Ikan Louhan
Pakan ikan louhan terdapat dua jenis yaitu pakan buatan dan pakan alami. Pakan alami bisa berupa nyamuk, ulat jerman, cacing, udang, dan kutu air, sedangkan pakan buatan berupa pelet yang mengandung protein tinggi, pelet, dan spirulina. Ikan yang akan diternakkan perlu diperhatikan makanannya terutama pada saat 2 minggu sebelum ikan louhan mulai diternakkan. Hal ini bertujuan agar ikan louhan mampu menghasilkan bibit-bibit yang berkualitas. Usahakan pakan yang akan diberikan ke ikan louhan merupakan pakan alami yang mengandung banyak protein dan gizi seperti cacing, jangkrik, udang, dan lainnya. Jangan memberikan ikan louhan makanan buatan saat ikan louhan akan diternakkan. Karena makanan buatan seperti pelet biasanya mengandung pewarna yang dapat mempengaruhi kesuburan ikan louhan.