Rabu, 30 November 2022
Rabu, 02 November 2022
Penyebaran Kerapu
Penyebaran Kerapu
Ikan kerapu lumpur
adalah ikan yang termasuk dalam ikan migratory. Ikan tersebut merupakan ikan
karang yang sering ditemukan di kawasan terumbu karang di daerah intertidal.
Ikan kerapu lumpur (Epinephelus
coioides) menggunakan terumbu karang didaerah intertidal karena
faktor kondisisi biofisiknya cocok sebagai tempat memijah dan asuhan bagi
perkembangan larvanya . Panjang ikan ini umumnya 50-70 cm, namun juga bisa
mencapai 150 cm. Penangkapan ikan ini menggunakan alat tangkap seperti pancing,
trawl, bubu dan rawai dasar. Persebaran ikan ini yaitu diseluruh perairan
Indonesia terutama laut Jawa, bagian timur Sumatera, sepanjang pantai
Kalimantan, Kalsel, Arafuru, ke utara sampai Teluk Benggala, Teluk Silam, Laut
Cina Selatan sampai perairan tropis Australia. Ikan ini dipasarkan dalam bentuk
segar, asin-kering dengan harga sedang.
Ikan
kerapu merupakan salah satu ikan laut ekonomis penting yang sekarang ini banyak
dibudidayakan dan merupakan komoditas ekspor. Sebagai contoh kerapu tikus atau
kerapu bebek pada saat berukuran 5-10 cm merupakan ikan hias yang mahal dengan
harga Rp 6.000-10.000/ekor . Sedangkan ikan yang berukurtan konsumsi dalam
keadaan masih hidup di jual dengan harga Rp 300.000-350.000/kg. Permintaan ikan
kerapu dipasaran untuk ukuran 5-10 cm sebanyak 30.000-60.000 ekor/bulan dan
untuk ikan kerapu ukuran konsumsi sebanyak 20-30 ton/bulan
Perkembangan
kehidupan kerapu tikus sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempat
hidupnya. Faktor lingkungan tersebut antara lain : suhu, cahaya, salinitas,
arus. Fluktuasi kedaan lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap
periode, migrasi musiman serta terdapatnya ikan. Keadaan perairan serta
perubahannya juga mempengaruhi kehidupan dan pertumbuhan ikan (Baskoro, et al. 2010).
Daerah penyebaran
ikan kerapu cukup luas, tetapi tentu saja ada daerah-daerah yang cukup spesifik
untuk penyebarannya. Daerah penyebaran kerapu bebek dari Afrika Timur hingga
Pasifik Barat Daya. Perairan Indonesia sendiri memiliki potensi perairan karang
yang cukup luas. Perairan Indonesia yang populasi kerapunya cukup banyak adalah
perairan Sumatera, Jawa, Sulawesi, P. Buru, dan Ambon. Sementara itu, daerah
penyebaran kerapu macan adalah Afrika Timur, Kep. Ryukyu (Jepang Selatan),
Australia, Taiwan, Mikronesia, dan Polinesia.
Penyebaran kerapu
sunu di Indonesia terdapat di Kep. Seribu, Kep. Riau, Lampung, Bangka Selatan,
Kep. Karimunjawa, serta seluruh perairan terumbu karang. Sementara itu, untuk
daerah penyebaran kerapu lumpur meliputi Teluk Banten, Kep. Seribu, Segara
Anakan, Lampung, Perairan Arafuru, Teluk Cempe, dan Kupang.
Perkembangan dan
Pertumbuhan
Perkembangan dan
pertumbuhan kerapu dapat digunakan sebagai barometer atau tolok ukur
keberhasilan dalam memelihara ikan tersebut. Perkembangan sangat terkait dengan
penambahan jumlah secara fisik pada ikan. Sementara itu, pertumbuhan sangat
berhubungan dengan perubahan fisik dari ikan tersebut dari kecil hingga menjadi
besar.
1.
Perkembangan
Perkembangan
merupakan upaya ikan untuk memperbanyak diri dalam rangka mempertahankan
keturunannya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan reproduksi atau
pemijahan. Kerapu termasuk jenis ikan yang akan mengalami perubahan kelamin (sex
reverse) semasa hidupnya. Kelamin kerapu dari awal perkembangan hingga
mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina. Akan tetapi, setelah
tumbuh besar atau umumnya bertambah tua, kerapu menjadi jantan. Pergantian
kelamin ini dinamakan hermaprodit protogini. Perubahan ini disebabkan
faktor umur, ukuran, aktivitas pemijahan, dan indeks kelamin. Karena faktor
ini, setiap jenis kerapu mengalami kematangan gonad pada ukuran dan umur yang
berbeda.
Pemijahan biasanya
akan terjadi pada malam hari sekitar pukul 20.00-03.00 dini hari. Jantan akan
berputar-putar mengikuti gerakan betina. Selang beberapa saat, kerapu betina
akan mengeluarkan telurnya, lalu diikuti kerapu jantan yang menyemprotkan
sperma dari lubang genitalnya. Setelah itu, telur akan dibuahi oleh sperma.
Telur yang telah dibuahi akan terapung, sedangkan yang tidak terbuahi akan
tenggelam. Jika telur melayang, bisa jadi telah dilakukan pembuahan, tetapi
tidak sempurna dan jika menetas menyebabkan tubuhnya abnormal. Telur kerapu
akan menetas setelah 18-20 jam sejak pembuahan.
2.
Pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan
pertambahan ukuran panjang atau berat ikan dalam rentang waktu tertentu.
Pertumbuhan banyak dipengaruhi oleh banyak faktor dan merupakan proses biologi
yang sangat kompleks. Laju pertumbuhan dapat dipengaruhi oleh faktor dalam dan
luar tubuh ikan di antaranya gen, seks,umur, berat, dan penyakit. Cara
pengontrolan faktor dari dalam cukup sulit, tetapi Anda dapat melakukannya
melalui seleksi induk dan benih secara ketat.
Sementara itu, faktor
dari luar yang berpengaruh adalah pakan, suhu, oksigen, ph, kepadatan, dan
amoniak. Namun, peran domain dalam keadaan lingkungan normal pakan memberikan
dampak positif pada pertumbuhan ikan.
Kebiasaan makan kerapu
dapat dilihat dari isi perutnya. Isi perut kerapu yang masih kecil atau muda
didominasi krustacea (udang-udangan dan kepiting) sebanyak 83% serta
ikan-ikanan sebanyak 17%. Semakin besar, isi perutnya didominasi oleh
ikan-ikanan. Jenis udang-udangan yang banyak dijumpai di perut kerapu adalah
udang krosok (Parapeneus sp.), udang jerbung (Penaeus marguiensis),
dan udang dogol (Metapenaeus sp.).
Sementara itu, untuk
jenis ikan-ikanan yang digemari kerapu adalah belanak (Mugil sp.), ikan
teri (Stelopterus sp.), tembang (Sardinella sp.), beronang (Siganus
sp.), cumi-cumi (Lolligo sp.) dan Jenaha (Lutjanus sp.).
Karena makanannya tersebut, kerapu tergolong karnivora dengan kandungan protein
tinggi.
Kerapu memiliki
kebiasaan pada pagi hari sebelum matahari terbit serta menjelang matahari
terbenam. Jika dalam keadaan lapar, kerapu menghadap ke atas dan matanya
bergerak-gerak siap memangsa. Biasanya kerapu akan memangsa dan langsung
menyergapnya. Kerapu jarang mengonsumsi pakan yang sudah jatuh ke dasar perairan
walau keadaan lapar.
Pertumbuhan erat
sekali kaitannya dengan nilai produksi sehingga sangat dibutuhkan bagi pelaku
pembudidaya. Peningkatan dalam satuan panjang atau bobot per unit waktu
dinamakan laju pertumbuhan. Data pertumbuhan yang sering dipakai adalah bobot.
Hal ini disebabkan oleh hasil panen dan pemasarannya dinyatakan dalam bobot.
Hal ini disebabkan oleh hasil panen dan pemasarannya dinyatakan dalam bobot.
Cara menghitung laju pertumbuhan harian (LPH) ikan budi daya dinyatakan dalam
persen (%) sebagai berikut:
Keterangan:
LPH = laju pertumbuhan harian
Bo = Bobot ikan rata-rata pada awal pemeliharaan
Bh = Bobot ikan rata-rata pada awal hari ke-h
H = Lama pemeliharaan
LPH = laju pertumbuhan harian
Bo = Bobot ikan rata-rata pada awal pemeliharaan
Bh = Bobot ikan rata-rata pada awal hari ke-h
H = Lama pemeliharaan
Nilai Laju
Pertumbuhan Harian (LPH) tergantung pada awal ukuran tebar benih kerapu.
Pertumbuhan bobot rata-rata ikan selama waktu pemeliharaan bisa dilihat dari
waktu yang dibutuhkan selama pembesaran dan saat ikan mulai dibesarkan.
Konversi pakan juga
merupakan cara perhitungan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan jumlah pakan.
Jumlah pakan (g) yang dimakan ikan untuk menaikkan 1 g berat ikan dinamakan
konversi pakan. Misalnya nilai konversi pakan 8, artinya untuk menaikkan 1 g
bobot ikan diperlukan 8 g pakan.
Ikan kerapu memiliki
konversi pakan yang tinggi sekitar 8-12. Untuk usaha budi daya kerapu termasuk
golongan ikan yang memiliki laju pertumbuhan lambat dengan konversi pakan yang
tinggi. Nilai konversi pakan kerapu berbeda-beda tergantung suhu serta ukuran
ikan. Rumus konversi pakan dihitung sebagai berikut:
Judul Buku: Bisnis
dan Budi Daya KERAPU, Penerbit: Penebar Swadaya, Hal: 12-21.
Langganan:
Postingan (Atom)